PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI : BLH Solo Wacanakan IPAL Mobile

Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/SOLOPOS
Sabtu, 29 Juni 2013 - 15:21 WIB

SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, SOLO — Badan Lingkungan Hidup (BLH) Solo mewacanakan pengadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara mobile. IPAL mobile tersebut digunakan untuk mengangkut limbah-limbah di industri yang tak memungkinkan dibangun IPAL. Wacana itu digulirkan agar persoalan pencemaran sungai akibat limbah industri tekstil tak terus-terusan terjadi.

Kepala BLH Solo, Agus Sutrisno, mengakui adanya wacana pengadaan IPAL mobile. Disampaikannya, hingga kini wacana itu masih dalam tahap kajian.

“Ini baru diwacanakan IPAL mobile. Kami masih dalam tahap kajian dengan UNS,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (29/6/2013).

Dijelaskan Agus, pihaknya sudah melakukan uji coba dengan alat yang dimiliki oleh UNS.
“Sudah diujicobakan, tetapi belum memenuhi memenuhi syarat. Ini masih jauh,” ungkap dia.

Meski masih dalam tahap kajian, Agus mengisyarakat IPAL mobile bakal direalisasikan melalui APBD 2014.

“Nanti kami coba ajukan lagi untuk pengadaan alat itu,” urai Agus.

Dia mengungkapkan wacana pengadaan IPAL mobile tersebut digulirkan agar persoalan pencemaran sungai terutama di Kali Jenes tak terus-terusan terjadi. Agar persoalan pencemaran sungai akibat limbah industri tekstil tak terus-terusan terjadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, tingkat pencemaran di Kali Jenes kritis. Penyumbang terbesar pencemaran air berasal dari limbah tekstil yang dibuang ke aliran sungai.

Sekretaris Komisi II, Hami Mujadid Irsyad, mengatakan BLH memang sudah memaparkan wacana pembuatan IPAL bergerak tersebut. Dia menjelaskan wacana itu berupa truk tangki yang digunakan untuk menyasar industri yang berada di kawasan padat.

“Nanti limbah-limbah dari industri kecil diangkut ke IPAL Semanggi. Sehingga limbah tidak lagi dialirkan ke sungai. Mudah-mudahan rencana ini bisa mengkaver kebersihan Kali Jenes,” jelas dia.

Dijelaskannya, pendirian industri di Kota Bengawan semestinya mulai dikendalikan agar persoalan pencemaran sungai tak terus terjadi.

“Solo sebenarnya kan bukan tempat untuk pendirian pabrik karena memang lahannya tidak memungkinkan,” urainya.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif