Kapolsek Tawangmangu, AKP Riyanto (kiri), mengecek lokasi diksar mahasiswa UII di camping Mrutu, Dukuh Tlogodringo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, Minggu (22/1/2017). (JIBI/Solopos/Dokumentasi Polres Karanganyar)

Dua mahasiswa pencinta alam dari Jogja tewas di Tawangmangu.

Solopos.com, KARANGANYAR -- Dua mahasiswa pencinta alam Universitas Islam Indonesia (Mapala Unisi) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) The Great Camping XXXVII di lokasi camping Mrutu di Dukuh Tlogodringo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, pada Jumat (20/1/2017).

Atas kejadian itu, Polres Karanganyar mengimbau mahasiswa, mapala, maupun pihak lain tidak melaksanakan diksar, camping, dan lain-lain di tempat itu terlalu lama. Pertimbangan utama adalah perubahan cuaca mendadak dan ekstrem di wilayah Karanganyar dan sekitarnya.

Informasi yang dihimpun Solopos.com dari Polres Karanganyar, satu mahasiswa meninggal dunia saat perjalanan menuju Puskesmas Tawangmangu. Mahasiswa itu bernama Muhammad Fadhli, warga Tamansari Hijau, Gang 04, Nomor 1, RT 001/RW 003, Tibanbaru, Sekupang, Batam, Muhammad Fadhli, 20. Fadhli meninggal pada Jumat. (Baca juga: Mahasiswa UII Meninggal saat Diksar, Ini Penjelasan Pihak Kampus)

Kepala Puskesmas Tawangmangu, Supardi, membenarkan informasi tersebut. Dia menerima laporan dari dokter atau petugas medis yang menangani korban saat itu. Menurut laporan yang diterima Supardi, kondisi mahasiswa itu sudah meninggal saat tiba di puskesmas.

"Kalau data saya kurang tahu. Tetapi mahasiswa itu sampai puskesmas sudah dingin, meninggal. Hanya satu mahasiswa. Kami cek, pemeriksaan luar, enggak ada tanda-tanda trauma atau kekerasan. Kemungkinan hiportemia," kata Supardi saat dihubungi Solopos.com, Minggu.

Informasi dari Polres menyebutkan satu lagi peserta diksar Mapala Unisi, warga Jetis, RT 013/RW 013, Caturharjo, Sleman, DIY, Syaits Asyam, 19, meninggal pada Sabtu (21/1/2017). Syaits meninggal setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Sebanyak 38 anggota Mapala Unisi mengikuti diksar di Mrutu selama delapan hari, Sabtu-Minggu (14-22/1/2017). Menurut keterangan saksi yang disampaikan kepada anggota Polres, korban merasa kedinginan. Teman-temannya membantu dengan mengganti pakaian korban dengan pakaian kering.

Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak, menyampaikan anggota Polres Karanganyar masih menyelidik hal tersebut. "Apakah ada tanda-tanda kekerasan atau hipotermia? Penyidik sudah berkoordinasi dengan rumah sakit terkait autopsi. Saksi-saksi sudah mulai diperiksa," tutur Kapolres saat dihubungi Solopos.com, Minggu.

Sementara itu, Kapolsek Tawangmangu, AKP Riyanto, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak, menuturkan masih ada satu kelompok mapala dari DIY yang melaksanakan diksar di Mrutu. Rencananya satu kelompok itu diksar hingga Kamis (26/1/2017).

Dia mengimbau mahasiswa tidak melaksanakan kegiatan di tempat itu terlalu lama. "Cuaca ekstrem. Ini hujan terus. Dingin banget. Betul-betul menggigil. Kami cek ke lokasi kejadian, masih ada yang diksar. Kami imbau jangan lama-lama. Kami bukan melarang kegiatan di situ. Tetapi demi keselamatan," tutur Riyanto saat dihubungi Solopos.com, Minggu.

Riyanto menegaskan polisi tidak melarang kegiatan diksar di tempat tersebut. Dia hanya mengingatkan panitia dan peserta diksar maupun kemah mempertimbangkan kesehatan dan keamanan selama pelaksanaan kegiatan.

"Jangan lama-lama. Kami hanya mengimbau, kalau menurut ya syukur, kalau enggak ya silakan. Tetapi, kami minta seksi kesehatan dan keamanan cepat tanggap. Apabila terjadi sesuatu langsung bertindak."


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten