Ilustrasi pendidikan SMP. (Solopos/Wishnu Paksa)

Solopos.com, SOLO -- Salah satu dari dua siswa SMP Kristen Kalam Kudus Solo yang dikeluarkan alias di-drop out (DO) gara-gara kedapatan mengisap vape (rokok elektrik), Y, sudah tiga bulan tidak bersekolah.

Dua anak yang di-DO itu berinisial B dan Y. B saat ini sudah pindah ke sekolah lain. Namun, Y sudah tiga bulan tidak bersekolah karena tak pindah. Y ingin tetap sekolah di SMP Kristen Kalam Kudus.

“Anak saya tidak mau ke sekolah lain, maunya kembali ke sana. Soalnya kalau ke sekolah lain berarti dia mengakui salah. Sedangkan kalau tetap di sana [Kalam Kudus] dia akan memperbaiki nama baiknya,” kata Orang tua Y, Wong S.M., kepada wartawan, Kamis (23/1/2020).

Wong S.M. menyayangkan keputusan sekolah mengeluarkan anaknya tanpa mekanisme peringatan. Apalagi, peristiwa pelanggaran tersebut terjadi di luar sekolah (di rumah).

“Waktu itu kami dipanggil sekolah dan dikasih tahu anak saya dikeluarkan karena itu [mengisap vape]. Menurut saya pelanggaran anak saya ini sepele sekali karena anak kan masanya coba-coba. Jadi harusnya ada peringatan-peringatan dulu,” ujar dia bersama istrinya, Lily.

Maju Pilkada Sukoharjo 2020, Pengacara Henry Indraguna Siapkan Rp100 Miliar

Upaya permohonan agar anak tidak dikeluarkan sudah dilakukan, namun tidak berhasil. Terkait itu, Wong S.M. menguasakan  permasalahan ini kepada pengacaranya, Zainal Arifin, asal Karanganyar.

Direktur Pelaksana Yayasan Kalam Kudus, Riana Setiadi didampingi Kepala Sekolah SMP Kristen Kalam Kudus, Solo, Felixtian Teknowijoyo, mengatakan kedua siswa itu bukan dikeluarkan dari ditarik oleh orang tanya.

“Bukan dikeluarkan ya. Tapi orang tua yang menarik anaknya dari sini," jelas dia, Kamis.

Daftar 50 Desa di Klaten Dilintasi Tol Solo-Jogja

Felixtian mengakui sekolahnya memang menerapkan disiplin tinggi kepada anak didik. "Apalagi terkait narkoba dan kriminalitas, kami tidak memberikan kesempatan kepada anak bahkan untuk sekadar mencobanya sehingga jika ini dilanggar, baik di sekolah atau di luar, kami ambil tindakan tegas tanpa peringatan,” ujar Felixtian.

Tindakan disiplin tersebut diterapkan untuk mendidik sekaligus melindungi siswa agar tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang tidak baik.

“Jadi tindakan kami ini justru untuk melindungi anak. Aturan yang kami terapkan ini bisa menyelamatkan ratusan anak yang sekolah di sini,” imbuh Riana.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten