Pengendara kendaraan bermotor melintas di jalan Soekarno Hatta ketika kabut asap pekat dampak karhutla menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019). (Antara/Rony Muharrman)

Solopos.com, JAKARTA -- Industri pulp atau bubur kertas Indonesia diyakini telah berperan dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi tahun ini. Mereka diduga menanam pohon yang menjadi bahan baku kertas di lahan gambut yang dikeringkan.

Hal itu terlihat dalam laporan Koalisi Anti Mafia Hutan yang dirilis hari ini, Senin (18/11/2019). Ada lima temuan penting yang muncul dalam laporan tersebut. Pertama, adalah soal kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang sangat buruk selama 2019.

Kedua, lebih dari 40,000 titik panas telah terdeteksi di dalam wilayah konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI), termasuk sejumlah perusahaan HTI yang menyuplai bahan baku kepada produsen pulp. Dalam delapan konsesi HTI yang paling parah, 60% dari titik panasnya terjadi di lahan gambut.

Ketiga, Koalisi menyoroti peran pemilik konsesi HTI itu, terutama pemasok kayu ke industri milik dua produsen bubur kertas terbesar di Indonesia – yaitu Grup Asia Pulp & Paper (APP) dan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL). Sejak kebakaran 2015, dua produsen pulp tersebut berinvestasi besar untuk memasang kapasitas pengolahan baru.

Hal itu menambah kerentanan penggunaan lahan gambut dan meningkatkan risiko bertambahnya kebakaran hutan dan lahan di masa depan. "Meskipun pemilik konsesi HTI mengklaim akan mengurangi risiko kebakaran di konsesinya, kebakaran serius di konsesi HTI tetap terjadi pada tahun ini," demikian pernyataan Koalisi Anti Mafia Hutan yang diterima Solopos.com, Senin (18/11/2019)..

Dahlan Iskan Ungkap Lahan Prabowo di Lokasi Ibu Kota Baru

Dari delapan kebakaran terparah di konsesi HTI, enam di antaranya merupakan pemasok APP dan satu lainnya pemasok APRIL. Koalisi mengungkapkan APP membuka salah satu pabrik bubur kertas terbesar di dunia di Sumatra Selatan akhir 2016. Sebagian besar bahan baku kayunya berasal dari areal HTI di lahan gambut yang dikeringkan, termasuk sebagian areal yang mengalami kebakaran terparah pada 2015.

APRIL, sebut koalisi, mulai memproduksi jenis pulp baru yang diduga memakai proses produksi khusus dengan bahan bakunya kayu acacia dan crassicarpa -- spesies pohon yang hanya ditanam di lahan gambut.

Gambut

Keempat, kebakaran hutan dan lahan pada 2015 mendorong Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan perlindungan gambut. Sayangnya April 2019 lalu pemerintah malah mengeluarkan kebijakan Permen LHK P.10/2019 yang semakin mengurangi perlindungan pada lahan gambut di dalam lahan konsesi HTI. Kebijakan ini membuka ruang terjadinya kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang.

Dibela Soal Ratusan Ribu Hektare Lahan, Kubu Prabowo Puja-Puji JK

"Investasi tersebut akan meningkatkan ketergantungan APP dan APRIL pada lahan gambut yang dikeringkan. Restorasi lahan gambut yang dicanangkan
akan semakin sulit dilakukan. Koalisi memperkirakan risiko kebakaran lahan gambut semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang, jika upaya restorasi lahan gambut secara masif di konsesi HTI tidak dilakukan. Apalagi siklus El Niño akan semakin intens," kata Koalisi.

Kelima, hingga Oktober 2019, hampir 50% titik panas dalam delapan konsesi HTI yang paling parah terbakar. Padahal lokasi itu sebelumnya ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai zona Fungsi Lindung Ekosistem Gambut.

Koalisi juga menyoroti sejumlah brand ternama yang terlacak menggunakan produk APP maupun APRIL sebagai bahan baku.

Isu Lahan Ibu Kota Milik Prabowo, Moeldoko: Katanya Sih Bukan Lagi

"Produk APP misalnya digunakan oleh Nestlé berdasarkan informasi yang tersedia di website perusahaan tersebut. Pulp APRIL dipasok ke perusahaan terafiliasi Sateri untuk diproses lebih lanjut menjadi viscose staple fiber (VSF), yang digunakan untuk memproduksi tekstil sintetis. Berdasarkan laporan tahun 2017 Changing Markets, pelanggan Sateri tampaknya termasuk pengecer pakaian yang mendunia, Zara dan H&M."

Koalisi Anti Mafia Hutan terdiri atas sejumlah organisasi yaitu Auriga, Hutan Kita Institute, Environmental Paper Network, dan Rainforest Action Network.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten