Kategori: Boyolali

2 Orang Meninggal Akibat Demam Berdarah di Boyolali


Solopos.com/Bayu Jatmiko Adi

Solopos.com, BOYOLALI -- Dua warga Boyolali meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue atau DBD sepanjang Januari-April 2020. Total jumlah kasus DBD di Kota Susu tercatat sebanyak 61 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S Survivalina, mengatakan hingga saat ini pemantauan kasus DBD masih terus berjalan. "Meski ada pandemi Covid-19, di Boyolali tetap konsisten melakukan pengawasan dan pengendalian penyakit DBD. Kasus di Boyolali dari tahun ke tahun mengalami kenaikan," kata dia kepada wartawan, Kamis (11/6/2020).

Dia menjelaskan pada 2017, di Boyolali terdapat 100 kasus DBD. Dari jumlah tersebut dua di antaranya meninggal dunia. Kemudian pada 2018 ada kenaikan jumlah kasus menjadi 130 kasus.

Kiki Nekat Silet Lengan dan Paha Demi Yakinkan Polisi Soal Begal Fiktif di Sukoharjo

Dari jumlah itu dua di antaranya meninggal dunia. Kenaikan signifikan jumlah kasus demam berdarah di Boyolali terjadi pada 2019 yang mencapai 433 kasus. Bahkan pada 2019 disebut sebagai puncak kasus DBD di Boyolali.

Namun jumlah warga meninggal akibat penyakit tersebut tahun lalu hanya satu orang. Kemudian pada tahun ini, sampai April 2020, sudah ada 61 kasus. "Dari 61 kasus itu, delapan kasus muncul pada Januari, 20 kasus pada Februari, 15 kasus pada Maret, dan 18 kasus pada April," kata dia.

Puncak Kasus DBD

Dia menyampaikan di Boyolali, puncak kasus DBD biasanya terjadi pada Februari dan Maret. Sedangkan Mei hingga Agustus biasanya turun. Jumlah kasus akan bertambah lagi mulai September hingga Desember.

Netizen Tuding Candi Elektronik Solo Sengaja Dibakar, CEO: 100% Tidak Benar!

"Untuk itu kami imbau kepada semua masyarakat Boyolali, agar jangan bosan melaksanakan kegiatan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 3M plus. Menguras, mengubur atau memilah sampah dan menutup tempat-tempat penyimpanan air," kata dia.

Sedangkan kegiatan tambahan lainnya untuk mencegah mencegah kasus demam berdarah di Boyolali di antaranya bisa menanam tanaman pengusir nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik-jentik nyamuk. Juga menggunakan obat oles anti nyamuk dan sebagainya.

"Namun yang lebih penting, di setiap rumah harus dibiasakan ada satu pemantau jentik-jentik yang bisa melakukan supervisi sendiri di rumahnya sendiri. Hal itu guna memastikan di rumah tidak ada jentik-jentik nyamuk. Berawal dari situ nanti akan bisa dibasmi sumber yang menyebabkan penularan DBD," ujar dia.

Hamil dan Positif Covid-19, Driver Ojol Surabaya Tewas Dijambret

Salah satu warga Sawit, Rulis Ardiyanto, mengatakan sejauh ini masyarakat di lingkungannya sudah mulai sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan warga sudah memiliki program untuk mengumpulkan sampah setiap pekan sekali.

"Tujuannya agar sampah tidak menumpuk, tidak untuk sarang nyamuk, dan untuk menghindari timbulnya penyakit," kata dia belum lama ini.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih