Tiang beton penyangga baliho ambruk mengenai rumah Amad Dadi, 66, di sisi selatan pertigaan Wika, Mojosongo, Boyolali, Sabtu (13/10/2018). (Solopos-Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Sore itu, Sabtu (13/10/2018) sore itu Amad Dadi, 66, berkumpul di rumahnya bersama anaknya, Anjar Triwahyuningrum, 27, dan dua cucunya. 

Di meja makan, mereka baru selesai menikmati suapan-suapan terakhir menu nasi lele penyet yang dibeli di warung makan di seberang rumah.

Amad yang tinggal di Dukuh Pomah RT 004/RW 001 Desa/Kecamatan Mojosongo, Boyolali, atau tepat di selatan jalan pertigaan Wika Mojosongo itu tengah  berbincang ringan untuk melengkapi kebersamaan dengan cucu yang tinggal di rumah lain di belakang rumahnya.

Belum lagi dikemasi piring-piring di meja, tiba-tiba mereka mendengar suara keras dari arah depan rumah.

“Saya baru saja selesai makan sama anak dan cucu. Tiba-tiba ada suara keras sekali, Brak! Blum! dari arah depan rumah. Suara itu juga diikuti guncangan yang terasa sampai ke ruang makan,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (14/10/2018).

Saat itu batinnya sudah menduga ada kecelakaan lagi di depan rumah. Maklum, di depan rumahnya itu sudah sering kali terjadi kecelakaan lalu lintas. 

Untuk memastikan dugaannya, Amad pun bergegas ke depan rumah meninggalkan anak dan cucunya yang masih shock di meja makan.

Sampai di depan rumah, dugaan Amad benar. Satu unit bus besar terguling di jalan dan sebagian bodi bus masuk halaman rumahnya. 

Di depan bus besar itu, satu unit minibus juga sudah ringsek dan nyaris hancur. Sesaat dia langsung menyadari suara dentuman itu berasal dari kecelakaan yang mengerikan.

Dia melihat beberapa orang di dalam minibus sudah bergelimpangan tak bergerak penuh luka. Dia langsung berbalik badan dan hendak masuk lagi ke dalam rumah dengan tubuh gemetar. 

“Saya masuk lagi ke rumah. Bukannya saya tidak mau menolong, tapi saya tidak tahan melihat orang yang terluka,” ujarnya.

Sebelum masuk melalui pintu samping, Amad melihat anak cucunya akan menyusulnya ke luar rumah. Buru-buru Amad menggiring masuk sebelum mereka melihat peristiwa mengerikan itu. 

“Saya tidak mau cucu-cucu saya melihat kecelakaan [dan korban] itu. Saya khawatir pikiran mereka akan terbayang-bayang terus sampai dewasa,” imbuh kakek yang baru ke luar rumah lagi setelah semua korban dievakuasi polisi dan warga.

Menurut Amad yang tinggal di situ sejak 1979, kecelakaan antara bus pariwisata PO Mata Trans dengan Isuzu Panther itu adalah yang paling parah. Selain menyebabkan tujuh korban meninggal, benturan keras kecelakaan itu juga menyeret kendaraan-kendaraan itu masuk ke halaman rumahnya. 

Bahkan satu tiang beton penyangga baliho di pinggir jalan juga tersapu hingga ambruk dan mengenai teras rumahnya.

Setahun sebelumnya, tepatnya 20 September 2017, bus Rosalia juga ngeloyor masuk ke rumah yang berjarak sekitar 8 meter dari jalan itu dan menghancurkan terasnya. 

“Boleh dibilang saya masih diselamatkan Tuhan, karena dua kali kecelakaan yang sampai ke rumah saya ini saya pas sedang berada di rumah. Sekarang saya benar-benar takut dan trauma dengan kejadian ini,” imbuh kakek yang sehari-hari tinggal bersama anaknya, Anjar, ini.

Sementara Anjar juga berperasaan sama dengan ayahnya. “Ngeri, saya juga takut sekali kalau-kalau ada seperti ini dan lebih parah kena rumah kami,” kata Anjar menimpali ucapan ayahnya.

Meski begitu, Amad belum berpikir untuk pindah rumah. “Saya akan tetap di sini. Tapi mungkin tidak akan beraktivitas di rumah bagian depan seperti yang sudah saya lakukan setelah bus Rosalia masuk teras.”

Amad dan Anjar hanya berharap kecelakaan Sabtu sore itu adalah yang terakhir. Keduanya juga berharap pihak terkait melakukan sesuatu untuk mencegah peristiwa nahas itu terjadi lagi di kemudian hari. 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten