Kondisi anak Kali Pepe di Desa Tawangsari, Teras, Boyolali, menghitam selama dua hari sejak Jumat (6/12/2019). (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Aliran anak Kali Pepe di Bendungan Dukuh Penjalinan, Desa Tawangsari, Teras, Boyolali, menghitam selama dua hari pada akhir pekan lalu.

Anak sungai yang melintasi area River Tubing Wisnu Kencana Desa Tawangsari itu menghitam dan berwarna pekat sejak Jumat (6/12/2019) hingga Sabtu (7/12/2019). Sedangkan pada Minggu (8/12/2019) siang aliran anak sungai itu berangsur berubah jadi kecokelatan.

Meski sebelumnya air berwarna hitam, aktivitas di kawasan Kali Pepe Tawangsari sudah kembali normal. Sejumlah warga terlihat memancing bahkan anak-anak bermain di sungai.

Ariel Tatum Jadi Simpanan Om-Om?

Air dari bendungan itu mengalir ke saluran irigasi teknis di sekitar Dukuh Penjalinan. Di sepanjang saluran irigasi, air berbau menyengat dan berwarna cokelat pekat.

Sementara jika dirunut hingga ke tepi perbatasan Desa Tawangsari-Desa Mojolegi, separuh badan sungai ditumbuhi tanaman eceng gondok. Sampah juga masih terlihat di beberapa lokasi di sisi sungai.

Salah satu warga Tawangsari, Sutris, mengatakan sejak Jumat siang warna air sungai itu mulai berubah. “Kami tidak tahu apakah warna itu berasal dari limbah sawah atau limbah yang lain, namun air yang berwarna hitam mengalir dari sisi atas bendungan,” ujar dia.

Gibran Jajan Es Teh Plastikan, Netizen: Awas Radang Mas!

Sutris mengakui kejadian ini baru pertama kali di Dukuh Penjalinan. Kepala Desa Tawangsari, Yayuk Tutiek Supriyanti, mengatakan sudah melaporkan hal ini ke Polsek Teras.

Sampel air juga sudah diambil untuk diuji di laboratorium. Yayuk menyebut kali ini sumber pencemaran sulit diterka.

Biasanya pencemaran di anak Kali Pepe diakibatkan limbah dari kandang babi di seberang sungai. “kemarin keluarnya air dari atas sehingga kemungkinan sumber pencemaran tidak berasal dari desa,” uar dia.

Kronologi Peselancar Filipina Selamatkan Atlet Indonesia Tenggelam di Semifinal SEA Games 2019

Terpisah, pegiat sungai Adridawa Pujangga Boyolali, Totok Sudaryanto, mengatakan untuk mengetahui kondisi sungai harus dilihat dari hulu hingga hilir. Warga tidak bisa hanya melihat sepotong aliran kemudian langsung menyimpulkan apakah sungai itu tercemar atau tidak.

“Selain itu juga harus melewati tahap kajian dan uji laboratorium,” ujar Totok.

Namun demikian, jika melihat potensi pencemaran sungai, semua sungai memang berpotensi tercemar dengan berbagai macam faktor, terutama kesadaran warga.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten