Wisatawan mengunjungi Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/6/2018). (Bisnis-Nurul Hidayat)

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat 1.895 wisatawan mancanegara mengunjungi Jawa Tengah selama bulan Oktober 2018. Wisman terbanyak berasal dari Malaysia yang mencapai 878 orang.

Angka 1.895 kunjungan itu mengalami penurunan hingga 10,49% dibandingkan bulan September 2018 yang mencapai 2.117 kunjungan. "Jumlah kunjungan wisman terbanyak berasal dari warga negara berkebangsaan Malaysia, yaitu 878 kunjungan, disusul Singapura 320 kunjungan dan Thailand sebanyak 74 kunjungan," ujar Kepala BPS Jateng Sentot Bangun Widoyono, Senin (3/12/2018).

Sementara itu, okupansi atau tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Jawa Tengah pada bulan Oktober 2018 tercatat 46,16%, mengalami kenaikan sebesar 1,70 poin dibanding TPK bulan September 2018 yang tercatat 44,46%. Apabila dibanding periode yang sama pada tahun 2017, maka TPK Oktober 2018 mengalami penurunan 1,85 poin.

"TPK bulan Oktober 2018 tertinggi terjadi pada hotel bintang 4 yaitu sebesar 51,81% dan terendah hotel bintang 1 sebesar 29.33%,"ucapnya.

Dia menambahkan untuk rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Oktober 2018 tercatat sebesar 1,32 malam, turun 0,22 poin dibanding bulan September 2018 yang tercatat sebesar 1,54 malam. "Pada bulan Oktober 2018, RLM mancanegara tercatat sebesar 1,98 malam, mengalami penurunan sebesar 0,76 poin dibandingkan bulan sebelumnya [September 2018] yang sebesar 2,74 malam. Sedangkan untuk RLM domestik tercatat 1,31 malam, mengalami penurunan 0,20 poin dibandingkan dengan periode September 2018 yang sebesar 1,51 malam," jelasnya.

Sementara itu, pelaku wisata di Provinsi Jawa Tengah menilai, kurangnya branding untuk beberapa tempat wisata. Pasalnya, selama ini Jateng hanya menonjolkan empat wisata unggulan seperti Dieng, Borobudur, Karimunjawa, dan Sangiran.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Jateng Joko Suratno mengatakan, selama ini kurangnya branding dan pengelolaan masih menjadi kendala utama untuk tumbuhnya pariwisata di Jawa Tengah. Selain itu, aksesibilitas menuju tempat wisata juga harus dipikirkan oleh pemerintah. "Selama ini yang masih jadi kendala adalah branding dan pengelolaan. Sebetulnya Jateng mempunyai banyak potensi wisata yang sedang berkembang, sehingga bantuan dari pemerintah harus dimaksimalkan," ujarnya beberapa waktu lalu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten