170 Pengrajin Batik Klaten Ikuti Ujian Sertifikasi
Ilustrasi membatik (JIBI/Solopos/Dok.)

Uji kompetensi diikuti pengrajin batik Klaten.

Solopos.com, KLATEN – Sebanyak 170 pengrajin batik di Klaten mengikuti uji kompetensi guna sertifikasi pengrajin pada 2017. Sertifikasi itu dilakukan untuk meningkatkan daya saing para pengrajin batik.

Kabid Perindustrian Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Klaten, Yoenanto Sinung Noegroho, mengatakan pengujian sudah dilakukan sekitar dua bulan lalu. Pengujian dilakukan selama dua hari di antaranya meliputi pewarnaan, pembuatan desain, hingga kecakapan serta kebersihan para pengrajin.

“Ujian sertifikasi merupakan fasilitas dari Kementerian Perindustrian. Kami masih menunggu hasil pengujiannya. Belum tentu 170 pengrajin itu semua lolos sertifikasi,” kata Sinoeng saat ditemui di festival batik, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten Jumat (25/8/2017).

Dia menyebut sertifikasi pengrajin batik di Kabupaten Bersinar baru kali pertama dilakukan. Sertifikat pengrajin batik itu diharapkan bisa dilakukan bertahap. “Kemarin yang kami usulkan ada sekitar 320 pengrajin. Tetapi yang difasilitasi baru 170 pengrajin,” ungkap dia.

Sinoeng menuturkan sertifikasi pengrajin batik dilakukan untuk meningkatkan daya saing di tingkat nasional hingga internasional. Apalagi, Indonesia mulai memasuki era persaingan termasuk di dalamnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Dari sertifikasi ini nanti bisa meningkatkan kepercayaan para konsumen. Saat ini dalam pengadaan barang dan jasa saja mengharuskan para tukang batu atau kayu harus punya sertifikat,” urai dia.

Disinggung fasilitasi ke pengrajin serta pelaku industri kecil menengah (IKM) batik, Sinoeng menjelaskan fasilitas terus dilakukan seperti bantuan peralatan membatik serta fasilitas pemasaran. Pada 2018 mendatang, fasilitas yang diberikan berupa pelatihan pengrajin hingga mengikutkan para pengusaha pada sejumlah ajang pameran.

Camat Bayat, Edy Purnomo, mengatakan Desa Jarum merupakan salah satu sentra pengrajin batik di Bayat. Sebagian besar kaum ibu di desa tersebut merupakan pengrajin batik.

“Kelompok di Jarum itu kerja keras. Pemasaran ada yang sampai Amerika, Jepang, dan Korea,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho