15 Tahun Jadi Markas Arseto, Ini yang Tersisa di Bekas RS Kadipolo Solo

Cagar budaya solo, infrastruktur solo, Rumah Sakit (RS) Kadipolo di Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo, memang sudah tutup sejak puluhan tahun. Bahkan sebagian masyarakat mungkin sudah lupa dengan keberadaan rumah sakit tersebut.Beberapa waktu lalu, nama rumah sakit ini kembali mencuat lewat sebuah gugatan di Pengadilan Negeri (PN) Solo yang diajukan oleh PT Sekar Wijaya, pemilik lahan bekas rumah sakit tersebut saat ini. PT Sekar Wijaya menggugat tiga anggota keluarga mantan Presiden Soeharto (keluarga Cendana) atas tuduhan penipuan dan penggelapan.

15 Tahun Jadi Markas Arseto, Ini yang Tersisa di Bekas RS Kadipolo Solo

SOLOPOS.COM - Kondisi bekas RS Kadipolo yang pernah dipakai sebagai markas klub sepak bola Arseto di Laweyan, Solo, Minggu (6/5/2018). (Solopos-Nicolaus Irawan)

<p><strong>Solopos.com, SOLO</strong> -- Rumah Sakit (RS) Kadipolo di Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo, memang sudah tutup sejak puluhan tahun silam. Bahkan sebagian masyarakat mungkin sudah lupa dengan keberadaan rumah sakit tersebut.</p><p>Beberapa waktu lalu, nama rumah sakit ini kembali mencuat lewat sebuah <a title="Jual Aset BCB, Keluarga Cendana Digugat di PN Solo" href="http://news.solopos.com/read/20180502/496/913880/jual-aset-bcb-keluarga-cendana-digugat-di-pn-solo">gugatan </a>&nbsp;di Pengadilan Negeri (PN) Solo yang diajukan PT Sekar Wijaya, pemilik lahan bekas rumah sakit tersebut saat ini. PT Sekar Wijaya menggugat tiga anggota keluarga mantan Presiden Soeharto (keluarga Cendana) karena memperjualbelikan bangunan yang diketahui merupakan cagar budaya.</p><p><em>Solopos.com</em> menelusuri keberadaan bekas rumah sakit tersebut atau apa yang tersisa darinya, Minggu (6/5/2018), ditemani Chaidir Ramli. Lelaki yang kini aktif di Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Solo ini masih ingat betul sejarah tempat itu karena pernah dipakai sebagai markas tim sepak bola Arseta Solo selama 15 tahun mulai 1983 hingga 1998.</p><p>Chaidir yang juga pernah menjadi pengurus tim juara Piala Liga I 1985 dan juara Galatama 1992 ini memperlihatkan mulai dari letak kamar para pemain, dapur, kantor, hingga lapangan tepatnya di kompleks lapangan Kadipolo atau bekas RS Kadipolo. Sayang, riuhnya markas tim sepak bola milik putra Presiden kedua RI Soeharto, Sigid Harjoduyanto, ini harus berakhir berbarengan dengan kerusuhan Mei 1998.</p><p>&ldquo;Di depan yang dekat jalan dan <a title="Pintu Air Demangan Solo Bakal Dibangun Baru" href="http://soloraya.solopos.com/read/20180505/489/913470/pintu-air-demangan-solo-bakal-dibangun-baru">pintu </a>&nbsp;masuk itu dulu jadi kantor serta penyimpanan arsip. Sebelahnya ada kamar untuk asisten pelatih,&rdquo; tutur Chaidir sembari menunjukkan dua bangunan yang dipenuhi tumbuhan rambat serta semak-semak di bagian paling depan atau utara bekas RS Kadipolo ini.</p><p>Di selatan dua bangunan ini ada beberapa ruang besar yang dahulu dipakai untuk kamar para pemain Arseto. Ruangan besar berjendela dan pintu berwarna cokelat tua itu kemudian disekat-sekat menjadi setidaknya 12 kamar dengan 1 kamar ditempati 2 orang pemain.</p><p>Sementara di sebelah timur kamar digunakan untuk dapur dan kamar untuk para staf. Terpisah dari bangunan utama, di sebelah selatan dan dekat lapangan bola difungsikan untuk ruang kesehatan serta dua kamar untuk pemain pula.</p><p>Sederet pemain Timnas Indonesia pernah membela tim Biru Langit ini antara lain Novrizal Chay, Ricky Yacob, Eddy Harto, Nasrul Koto, Eduard Tjong, Rochy Putiray, Miro Baldo Bento, I Komang Putra, Agung Setyabudi, Tonggo Tambunan, Edu Hombert, Yunus Mochtar, Benny Van Breukelen, dan Nova Arianto.</p><p>Setelah Arseto bubar, Chaidir dan sejumlah rekan mulai merajut asa menghidupkan lagi tim legendaris ini. Akan tetapi, ia memilih berkonsentrasi di sepak bola usia dini dengan membangun sekolah sepak bola (SSB) Arseto yang juga bermarkas di kompleks ini.</p><p>SSB Arseto kemudian berubah nama menjadi SSB Ksatria menyusul adanya larangan menggunakan nama Arseto pada 2005. Kali terakhir tim Arseto memang hidup, tapi nasibnya jauh berbeda dengan tim berjuluk Biru Langit saat ditukangi Dananjaya. Arseto kini menjadi bagian dari klub amatir internal Persis Solo yang berlaga di Divisi II.</p><p>&ldquo;Kalau hal-hal di luar lapangan, saya enggak tahu. Saya sempat dengar kabar mau jadi perumahan di sini, tapi batal. SSB Ksatria tetap rutin latihan di sini. Pertandingan Askot PSSI Solo juga masih di sini. Paling setiap bulan kami bayar listrik Rp150.000 untuk penerangan di kantor,&rdquo; ujarnya.</p><p>Urusan di luar lapangan dia memilih acuh tak acuh asal SSB jalan terus. Kini hanya satu ruangan yang masih difungsikan sebagai kantor SSB yang banyak digunakan untuk menyimpan sejumlah piala dan peralatan sepak bola.</p><p><strong>Perumahan Elite</strong></p><p>Salah satu mantan pemain Arseto, Sugiharto, mengaku pernah menempati bekas RS Kadipolo ini selepas Arseto bubar. Saat itu pemain asal Medan ini tak punya tempat tinggal di Solo. Ia pun memboyong keluarganya tinggal di bekas mes itu.</p><p>&ldquo;Saya pindah ke sini saat sudah jadi asisten pelatih. Saya sempat tinggal dengan keluarga di sini. Baru pada 2011 saya pindah keluar ke Mangkubumen. Selama di sini karena sudah terbiasa jadi tidak masalah. Paling saat itu saya hanya bayar listrik. Kalau air sudah ada karena ada sumur,&rdquo; paparnya.</p><p>Lurah Panularan, Triboto Waluyojati, bercerita sejak memimpin wilayah itu pada 2005 silam, bekas markas Arseto itu sudah dalam kondisi mangkrak. Pernah ada tiga keluarga yang tinggal di lahan itu, namun mereka pinda sekitar 2013.</p><p>&ldquo;Kabarnya mereka dikasih pesangon lalu disuruh pindah. Setelah itu ke mana, kami tidak tahu karena pemerintah kelurahan tidak pernah diberi tahu apalagi diajak rembukan hal menyangkut bekas RS Kadipolo tersebut,&rdquo; katanya saat ditemui <em>Solopos.com</em>, Jumat (4/5/2018).</p><p>Dia mengakui setahun terakhir santer beredar kabar bekas markas Arseto ini akan dibangun perumahan elite. Medio 2017 lalu ada rombongan dari Jakarta datang ke tempat itu untuk mengadakan selamatan ditandai dengan menanam kepala kerbau.</p><p>Ia diundang, namun mendadak. Bahkan, sejumlah warga RT 003 yang memiliki rumah menumpang di lahan bekas rumah sakit di sebelah selatan ini telah didatangi orang yang mengaku perwakilan pemilik tanah lalu diminta pindah. Warga ini pun dijanjikan bakal diberi santunan Rp5 juta/bangunan.</p><p>&ldquo;Saat selamatan itu saya tanyakan untuk apa, katanya mau dibangun perumahan. Kabar terakhir cluster-nya mau dibangun Desember 2017, tapi sampai sekarang tidak ada beritanya lagi. Setelah itu saya baca di koran ada yang <a title="Ikut Digugat soal Jual Beli BCB Keluarga Cendana, Ini Penjelasan BPN Solo" href="http://soloraya.solopos.com/read/20180506/489/914622/ikut-digugat-soal-jual-beli-bcb-keluarga-cendana-ini-penjelasan-bpn-solo-">menggugat </a>&nbsp;tanah ini. Penggugat [PT Sekar Wijaya] saat mengurus izin mendirikan bangunan [IMB] ditolak karena lahan ini masuk benda cagar budaya. Saya heran, kapan mereka ngurus IMB, kelurahan kok enggak tahu, saya juga tak pernah didatangi, apalagi tanda tangan,&rdquo; papar Triboto.</p><p>Merujuk surat dari Kemendikbud Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Nomor 1999/E19/KB/2017, lokasi bekas RS Kadipolo itu merupakan cagar budaya. Surat ini juga dipertegas SK Wali Kota Solo Nomor 649/1-R/1/2013 Pengganti SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/116/1/1997.</p><p>Pemerintah Kelurahan Panularan tak mempermasalahkan hendak diapakan lahan tersebut. Namun demikian, ia berharap siapa pun pemiliknya mempertimbangkan serta memikirkan masyarakat sekitar. Hal ini lantaran selama ini lapangan Kadipolo tersebut difungsikan warga untuk arena olahraga khususnya sepak bola.</p><p><br /><br /></p>

Berita Terkait

Berita Terkini

Pekalongan Diprediksi Tenggelam 15 Tahun Lagi, Ini Sebabnya

Kota Pekalongan di Jawa Tengah diprediksi tenggelam pada 2036 akibat penurunan muka tanah dan naiknya permukaan air laut.

Wisata WGM Wonogiri Tutup, Pengunjung Kecele

Banyak warga yang kecele saat berkunjung ke sejumlah tempat wisata di Wonogiri, termasuk WGM, pada hari kedua Lebaran, Jumat (14/5/2021).

Duh, Pengemis Bawa Kabur Balita Usia 2 Tahun di Sragen

Seorang pengemis perempuan kedapatan membawa kabur seorang balita yang berusia 2 tahun asal Kelurahan Sragen Kulon, Sragen, pada Jumat (14/5/2021). 

Begini Kisah Seleksi Jadi Imam di Uni Emirat Arab

Kemenag melakukan seleksi imam masjid asal Indonesia yang akan diberangkatkan untuk bertugas di wilayah Uni Emirat Arab (UEA).

Melintas di Solo Saat Lebaran, 481 Kendaraan Diperiksa

Sebanyak 481 kendaraan berpelat luar Kota Solo diperiksa saat hari H Lebaran pada Kamis (13/5/2021).

Ketua LHKP-PWM Jateng Sesalkan Pernyataan Ali Mochtar Ngabalin, Desak Minta Maaf

Pernyataan Ali Muktar Ngabalin, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden terkait Busro Muqodas disesalkan Khafid Sirotudin, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PW Muhammadiyah Jateng.

Bhabinkamtibmas Catat ada 1.241 Pemudik Tiba Sragen

Kebanyakan pemudik tiba di Sragen sebelum larangan mudik Lebaran diberlakukan.

Wuih! Ada Wahana Baru di Gunung Pegat Sukoharjo Loh

Gunung Pegat Sukoharjo kini dilengkapi sejumlah wahana baru.

Korban Tewas Karena Jebakan Tikus Di Sragen Tembus 17 Orang, Ini Daftarnya!

Korban meninggal dunia akibat tersengat jebakan tikus beraliran listrik terus berjatuhan di Kabupaten Sragen.

H+1 Lebaran, Pengunjung Wisata Air di Klaten Sepi

Disparbudpora Klaten memprediksi puncak kunjungan ke objek wisata air di Kabupaten Bersinar berlangsung, Sabtu (15/5/2021).

Inilah Tanda-Tanda Ban Sepeda Motor Harus Diganti

Rider sepeda motor wajib mengetahui kondisi ban saat berkendara karena ban menjadi salah satu komponen inti yang memberikan jaminan keselamatan.  

Gempa M 7,2 Guncang Nias

Gempa Bumi bermagnitudo (M) 7,2 mengguncang Nias Barat, Sumatra Utara, Jumat (14/5/2021)