ilustrasi PPDB online. (Solopos-Dok)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar mencatat ada 15 SMP negeri di kabupaten tersebut yang kekurangan siswa baru pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019.

Total kekurangan itu mencapai 656 siswa. Sekretaris Disdikbud Karanganyar, Agus Haryanto, menyampaikan data PPDB SMP yang dihimpun tim Disdikbud selama masa verifikasi, Senin-Rabu (15-17/7/2019), sudah diolah.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar membuka PPDB online SMP pada Senin-Kamis (1-4/7/2019). Apabila hingga batas waktu ditentukan belum dapat memenuhi kuota, sekolah diizinkan memperpanjang PPDB secara offline.

"Awalnya saat [PPDB] online itu sekolah negeri di Karanganyar kurang 1.074 siswa. Lalu dilanjutkan [pendaftaran] offline bisa mendapatkan 418 siswa. Dari total 51 SMPN di Karanganyar, 15 sekolah belum dapat memenuhi kuota," ujar Agus saat dihubungi Solopos.com, Jumat.

Dari 15 sekolah itu, ada satu sekolah yang kali pertama pada tahun ini tidak dapat memenuhi kuota siswa yakni SMPN 3 Karanganyar. Menurut Agus, dari total kuota 288 siswa, SMPN 3 Karanganyar mendapatkan 285 orang.

"Hasil pengecekan itu tiga siswa tidak melakukan daftar ulang. Jadi awalnya terpenuhi. Kalau sekolah lain rata-rata kekurangan siswa saat PPDB. Kebanyakan sekolah pinggiran. Kalau evaluasi yang kami lakukan tiga hari itu prioritas mengecek MPLS [Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah]. Sisi lainnya mendata jumlah siswa," ungkap dia.

Ditanya evaluasi sistem zonasi pada PPDB 2019, Agus tidak banyak berkomentar. Dia menjelaskan Pemkab hanya melaksanakan kebijakan pemerintah pusat.

Sementara itu, SMPN 2 Tasikmadu mengklaim memenuhi kuota siswa baru pada PPDB 2019. Tahun ini mereka membuka kuota 220 siswa. Jumlah itu berkurang empat kursi dibanding tahun lalu.

Kepala SMPN 2 Tasikmadu, Sri Handayani, menuturkan kuota empat siswa dari 224 siswa itu disediakan untuk empat orang siswa dari tahun ajaran 2018/2019 yang tinggal kelas.

"Kuota terpenuhi. Yang empat kursi itu untuk empat siswa enggak naik kelas. Saya mengajukan 220 kursi. Kalau tetap mengajukan 224 kursi nanti kasihan yang empat anak. Selain itu menyalahi data pokok pendidikan [dapodik]. Satu kelas maksimal 32 siswa," kata Sri Handayani saat dihubungi Solopos.com, Jumat (19/7/2019).

Dia mengaku siswa di SMPN 2 Tasikmadu didominasi dari wilayah zona 1 (Desa Kalijirak) dan zona 2 (Desa Gaum, Desa Wonolopo, dan Desa Kaliboto). Menurut Sri Handayani, rata-rata nilai calon siswa saat itu dari zona 3 lebih bagus ketimbang dari zona 1 dan 2.

"Banyak anak zona tiga tidak diterima padahal nilainya cukup. Tapi kami kan harus memenuhi zona satu dan dua dulu. Sebenarnya sayang banget. Mereka yang zona tiga dari Tasikmadu dan Mojogedang," ujar dia.

Berikut data SMP negeri di Karanganyar yang belum memenuhi kuota:

No.

Sekolah

Kuota

Siswa Baru

Kekurangan

1.

SMPN 3 Gondangrejo

96

82

14

2.

SMPN 2 Jatipuro

128

49

79

3.

SMPN 3 Jatipuro

128

52

76

4.

SMPN 1 Jatiyoso

160

137

23

5.

SMPN 2 Jatiyoso

128

107

21

6.

SMPN 1 Jenawi

160

129

31

7.

SMPN 3 Jumantono

128

38

90

8.

SMPN 2 Jumapolo

192

97

95

9.

SMPN 3 Jumapolo

96

43

53

10.

SMPN 3 Karanganyar

288

285

3

11.

SMPN 3 Karangpandan

160

152

8

12.

SMPN 2 Matesih

160

99

61

13.

SMPN 2 Ngargoyoso

160

120

40

14.

SMPN 3 Ngargoyoso

96

73

23

15.

SMPN 2 Tawangmangu

160

121

39

Sumber: Disdikbud Karanganyar. shy

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: