Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati (tengah) melayani penukaran uang, Kamis (24/5/2019). (Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — https://soloraya.solopos.com/read/20190429/491/988641/bupati-sragen-akui-beda-pandangan-dengan-wabup-pastikan-tetap-bersama-wabup">Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menjadi teller Bank Jateng selama kurang lebih 15 menit untuk memantau aktivitas penukaran uang. Dia sempat melarang warga yang hendak menukar lebih dari Rp4,4 juta.

Ratusan orang memadati halaman Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Kamis (23/5/2019). Mereka berkerumun di enam lokasi pelayanan penukaran uang pecahan Rp20.000-an, Rp10.000-an, Rp5.000-an, dan Rp2.000-an.

Mereka berkerumun di depan pintu layanan di enam mobil perbankan keliling sembari menunggu pemanggilan nomor urut. Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati melihat-lihat pelayanan penukaran uang setelah membuka secara simbolis.

Mobil Bank Jateng Sragen menjadi salah tujuan Yuni, sapaan https://soloraya.solopos.com/read/20190406/491/983201/bukan-bentuk-dukungan-jokowi-bupati-sragen-beberkan-makna-pose-1-jari">Bupati. Perempuan berhijab dan berkacamata itu tertarik menjajal menjadi petugas pelayanan bank.

Ia berdiri di belakang meja pelayanan setinggi 1,5 meter di dalam mobil. Seorang laki-laki sudah siap membawa nomor antrean dan menyerahkan uang Rp100.000-an untuk ditukarkan dengan uang pecahan.

Kurang dari lima menit, lak-laki itu keluar dengan wajah ceria. “Mari antrean berikutnya!” teriak Yuni. Seorang laki-laki pensiunan PNS menaiki tangga mobil. Ia mengenakan celana pendek dan kaus berkerah warna biru langit. Tas serempang hitam melilit pundangnya. “Mari Pak! Bapak tukar berapa? Maksimal Rp4,4 juta,” sapa Yuni.

“Tidak boleh lebih? Rp5 juta saja boleh?” tanya laki-laki asal Kaponan RT 025/RW 006, Duyungan, Sidoharjo, Sragen, Sutarto, 59, sembari membuka kancing tasnya.

“Maaf Bapak, tidak boleh! Nanti yang lain ikut-ikutan,” ujar Yuni yang didampingi Pemimpin Cabang Bank Jateng Sragen Retno Tri Wulandari.

Sutarto mengikuti ketentuan. Ia mengeluarkan uang Rp100.000-an senilai Rp4,4 juta untuk ditukarkan dengan pecahan Rp20.000-an, Rp10.000an, Rp5.000-an, dan Rp2.000-an.

“Uang-uang ini untuk fitrah cucu dan ponakan biar senang. Ngasihnya ya tunda usuk. Yang besar dapatnya banyak dan yang kecil dapatnya sedikit,” ujarnya seusai menerima uang pecah senilai Rp4,4 juta.

Pada 2018 lalu, Sutarto menghabiskan Rp1,5 juta hanya untuk bagi-bagi uang fitrah untuk cucu dan keponakan yang jumlahnya lebih dari 20 orang. Ia memperkirakan kebutuhan uang fitrah tahun ini meningkat.

Sutarto mengantre sejak pukul 07.30 WIB dengan membawa nomor antrean urutan keempat. Ia baru bisa terlayani pada pukul 09.00 WIB. “Saya sempat kecele saat datang ke Bank Jateng, Rabu [22/5/2019] lalu. Satpam memberi tahu pelayanan di kantor Pemda ini,” ujar dia.

Sutarto merupakan warga terakhir yang dilayani https://soloraya.solopos.com/read/20190427/491/988039/bupati-sragen-wajibkan-765-pejabat-ikuti-kemah-di-2-taman-kota-sabtu-minggu-ini">Yuni saat menjadi petugas bank. Yuni melayani penukaran uang kepada empat orang. “Ternyata masyarakat Sragen antusias. Kan satu paket Rp4,4 juta, tapi ada yang pengin lebih. Dari empat orang yang saya layani menunjukkan masyarakat sudah siap merayakan Idulfitri. Kalau tukar di pinggir jalan ada biaya dan risiko uang palsu. Kalau di sini dijamin uang layak, tidak palsu, dan gratis. Selesai tukar, warga harus mencelupkan tangannya di tinta. Ya, seperti habis coblosan pemilu kemarin,” ujarnya sambil tersenyum.

Tanda tinta pada warga setelah tukar uang bertujuan agar tidak menukar uang lebih dari sekali. Tujuannya menghindari motif perdagangan uang.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten