Saluran irigasi Colo Barat di Sendang Ijo, Selogiri, Wonogiri, Jumat (15/11/2019), kering sejak pintu saluran ditutup 1 Oktober lalu. (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Petani Selogiri, Wonogiri, pengguna air dari saluran irigasi Colo Barat mempertanyakan kapan pintu saluran itu dibuka kembali.

Pintu air saluran Colo Barat ditutup sejak 1 Oktober 2019 lalu untuk pemeliharaan rutin tahunan. Sesuai jadwal, pintu air itu seharusnya dibuka kembali pada 1 November 2019.

Namun demikian, hingga Jumat (15/11/2019) pintu air itu masih ditutup. Ratusan hektare (ha) tanaman padi milik petani di Sendang Ijo, Nambangan, Jaten, dan Pule, Kecamatan Selogiri sudah puso atau gagal panen. Selebihnya nyaris puso.

Pemkab Boyolali Buka 174 Lowongan Perangkat Desa, Minat?

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Colo Barat, Rusdiyanto, kepada Solopos.com, Jumat, mengaku belum mendapat informasi kapan pintu Colo Barat dibuka. Sesuai pola yang ditetapkan, mestinya pintu Colo Barat dibuka pada 1 November lalu.

Namun, berdasar informasi yang dia peroleh pemangku kepentingan terkait belum membukanya lantaran debit air yang mengalir di Sungai Bengawan Solo belum mencapai pintu Colo Barat.

Artinya, meski pintu saluran dibuka pun air belum bisa mengalir di saluran. Rusdiyanto masih menunggu informasi lebih lanjut dari pihak berwenang terkait kebenaran informasi tersebut.

Rudy: Beda dari Gibran, Jokowi Dulu Diterima PDIP karena Saya

“Hujan belum turun secara intensif. Air di Colo Barat juga belum ada. Tanaman sudah enggak dapat air sudah satu setengah bulan. Kekeringan tahun ini paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Rusdiyanto saat dihubungi Solopos.com.

Dia menginformasikan sawah yang mendapat pengairan dari Colo Barat lebih kurang 490 ha. Kondisi tanaman padi itu sekarang ini terbagi menjadi tiga.

Tanaman di sawah yang bisa mendapatkan air dari sumur pantek diperkirakan masih bisa panen, meski produksinya hanya 70 persen-80 persen. Tanaman padi yang saat pintu Colo Barat ditutup, 1 Oktober lalu, sudah mulai berbunga, juga bisa panen, tetapi produksinya sangat kecil, yakni maksimal 5 persen.

Adik Perempuan Jan Ethes Sudah Lahir, Presiden Jokowi Belum Datang Juga

Tanaman yang sejak pintu air Colo Barat ditutup belum berbunga bakal puso. Bahkan, tak sedikit tanaman yang sudah puso. Total tanaman yang sudah dan terancam puso luasnya lebih kurang 250 ha-275 ha.

“Kondisi ini terulang setiap tahun pada MT [musim tanam] III. Masa akan seperti ini terus. Mestinya ada kebijakan yang berpihak pada petani,” imbuh Rusdiyanto.

Dia mengusulkan pemangku kepentingan terkait perlu mengkaji ulang pola penutupan Colo Barat. Dia meyakini apabila saluran irigasi ditutup 1 November atau setidaknya 15 Oktober, tanaman padi masih bisa panen secara optimal karena tanaman bisa mendapatkan air lebih lama.

Korban Tewas Serangan Tawon di Klaten Bertambah

Petani asal Jaten itu menyadari pola penutupan Colo Barat 1 Oktober sudah baku berdasar kajian/analisis yang diputuskan dalam forum Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA). Kebijakan itu diambil agar pihak terkait dapat memperbaiki infrastruktur saluran.

Namun, dia menilai aturan itu mestinya dinamis menyesuaikan kondisi atau kebutuhan. “Ini demi kemaslahatan banyak petani. Tak hanya petani di Selogiri, tetapi di daerah lain [Sukoharjo dan Klaten],” ucap Rusdiyanto.

Terpisah, Kepala Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III Perum Jasa Tirta I, Setyo Purnomo, hingga Jumat sore belum dapat dimintai konfirmasi terkait kepastian pembukaan pintu Colo Barat. Saat dihubungi nomor teleponnya tidak dijawab.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten