Personel BPBD Wonogiri memeriksa lokasi tanah bergerak di Dusun Joho, Desa Kedawung, Kecamatan Kismantoro, Kamis (21/2/2019). (Istimewa/BPBD Wonogiri)

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebanyak 14 keluarga di Dusun Joho, Desa, Kedawung, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, harus diungsikan ke tempat lebih aman, Kamis (21/2/2019) malam nanti. Hal itu karena tanah yang mereka tempat bergerak dan rawan longsor.

Gerakan tanah tersebut kali ini memang lebih kecil ketimbang yang terjadi tahun lalu. Fernomena tanah bergerak itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Pergerakan tanah disusul dengan bunyi alarm sistem peringatan dini (EWS) yang dipasang di lokasi.

Tanah di dusun itu merekah selebar sekitar 50 sentimeter dengan panjang sekitar 500 meter. “Akibatnya, keluarga yang rumahnya dilalui rekahan itu terpaksa diungsikan ke tempat lebih aman. Ada 14 keluarga atau lebih dari 30 jiwa bakal mengungsi malam nanti. Kami melihat perkembangan situasi di sana,” kata Camat Kismantoro, Joko Purwidyatmo, saat dihubungi Solopos.com, Kamis (21/2/2019).

Joko menjelaskan keputusan mengungsikan warga itu atas rekomendasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri. Personel BPBD Wonogiri juga memeriksa lokasi kejadian guna memetakan dampak dan upaya antisipasi bencana lebih besar.

BPBD juga menyuplai sejumlah kebutuhan logistik berupa tenda dan perlengkapan dapur. “Saat ini warga masih beraktivitas seperti biasa. Jika nanti malam hujan, mereka harus segera mengungsi. Pengungsian itu akan berakhir jika situasi di lokasi dinilai aman,” beber Camat Joko.

Ia menambahkan seusai kejadian tanah bergerak, warga setempat bergotong royong menutup lubang rekahan. Warga juga berusaha agar lubang itu jangan sampai teraliri air.

Jika teraliri air, potensi bahaya tanah longsor semakin besar. “Tanah bergerak ini lebih kecil ukurannya dibanding tahun lalu. Tahun lalu berkurang 1 meter sampai 2 meter. Hari ini para warga berupaya menutup lubang dan mengantisipasi agar lubang jangan sampai teraliri air,” imbuh dia.

Di Kecamatan Kismantoro, lanjut Joko, hampir setengah kawasannya memiliki potensi bencana tanah bergerak. Hal itu lantaran kawasan itu didominasi kondisi geografis pegunungan.

Sejumlah desa rawan tanah bergerak itu beberapa di antaranya Pucung, Lemahbang, Jatiroto, dan lainnya. “Hampir di semua lokasi rawan tanah bergerak dipasangi alat sistem peringatan dini [EWS]. Jumlah terbanyak ada di Desa Pucung,” ujar Joko.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten