13 Warga Ngerangan Klaten Rapid Test, Keluarga Jenazah Covid-19 Dilarang Hajatan
Ilustrasi jenazah pasien corona. (Detik.com)

Solopos.com, KLATEN – Sebanyak 13 warga Desa Ngerangan, Bayat, Klaten, yang melayat saat pemakaman jenazah Tk, 53, yang positif Covid-19, bakal menjalani rapid test pertengahan pekan depan. Gusgas PP Covid-19 Bayat juga melarang anggota keluarga mendiang Tk menggelar selamatan di rumahnya.

Selain mengimbau belasan warga tersebut menerapkan isolasi mandiri selama 14 hari. Demikian penjelasan Pelaksana Tugas (PLt) Camat Bayat, Kelik, kepada Solopos.com, Kamis (4/6/2020).

Kejar Target 30.000 Tes Covid-19, Pemerintah Rekrut Banyak Relawan

Sebelum tim Puskesmas Bayat Klaten turun, Gusgas PP Covid-19 Ngerangan sudah melacak warga yang melayat saat pemakaman jenazah Tk. Sasaran pelacakan adalah warga yang pernah kontak fisik dengan mendiang TK saat Lebaran 2020.

Begitu juga warga yang pernah kontak fisik dengan keluarga mendiang Tk saat pemakaman, Rabu (3/6/2020) pukul 00.29 WIB.

Puncak Covid-19 Indonesia Belum Lewat, Pakar Peringatkan Risiko New Normal

“Semula diketahui ada 25 orang yang diwajibkan isolasi mandiri karena kontak fisik dengan mendiang TK atau pun dengan anggota keluarga mendiang TK. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata hanya 13 orang yang kontak erat. Sebanyak 13 orang inilah yang diwajibkan isolasi mandiri. Pekan depan baru akan dilakukan rapid test,” kata Kelik.

Tidak Jujur

Kelik mengatakan warga Ngerangan, Bayat, Klaten, kecolongan terhadap pemakaman jenazah pasien Covid-19 karena ketidakjujuran keluarga. Mestinya, hal itu dikoordinasikan secara terang-terangan dengan Gusgas desa/Gusgas RW agar tak berpotensi terjadi persebaran virus corona di waktu mendatang.

Sudah Terlalu Banyak Iuran, Apindo Tegas Menolak Tapera

“Memang ada keterlambatan informasi. Kami sampaikan di sini, proses pemakaman [mendiang Tk] memang langsung dari RS ke makam. Peti mati juga langsung dikubur. Sayangnya, warga mengetahui bahwa yang dikubur itu positif Covid-19 setelah acara pemakaman berlangsung. Itu diketahui dari sopir ambulans yang cerita ke pak lurah di Ngerangan. Itu masalah awalnya. Tidak jujur,” katanya.

Hal senada dijelaskan Kepala Desa (Kades) Ngerangan, Sumarno. Tak hanya di pemakaman jenazah Covid-19 itu, warga Ngerangan, Bayat, Klaten, yang kontak erat dengan mendiang Tk saat Lebaran wajib isolasi diri. Anggota keluarga mendiang Tk juga diwajibkan isolasi mandiri selama 14 hari ke depan.

Melayat Jenazah Covid-19, Puluhan Warga Ngerangan Klaten Belum Rapid Test

“Sebelum dirawat di RS di Semarang, mendiang TK sempat balik ke rumah di Ngerangan saat lebaran 2020. Ini masih dalam tahap pengembangan tracing. Yang jelas, warga yang menjalankan isolasi mandiri menaati imbauan tersebut,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho