Siswa SDN 3 Sengon, Prambanan, Klaten, menggelar simulasi gempa bumi di sekolah setempat, Senin (27/5/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Trauma akibat gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter (SR) yang mengguncang Jateng dan DIY, 27 Mei 2006, masih membayangi warga Klaten yang menjadi saksi hidup gempa dahsyat itu.

Mulyani yang kini berumur 63 tahun masih ingat jelas peristiwa 13 tahun lalu itu. Akibat guncangan gempa itu, hampir seluruh bangunan di kampungnya di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten, rata dengan tanah termasuk rumah yang ia tinggali.

Mulyani dan keluarganya bersama warga lainnya pun tinggal di tenda pengungsian selama sekitar tiga bulan. Mulyani kembali membangun rumahnya ketika bantuan berdatangan.

Pascagempa, kehidupan Mulyani dan warga lainnya perlahan kembali normal. Ibu satu anak itu kembali beraktivitas sebagai pedagang sayur keliling.

“Tiga tahun terakhir saya sudah tidak lagi berjualan karena sakit,” kata Mulyani saat ditemui di rumahnya, Senin (27/5/2019).

Meski sudah 13 tahun silam peristiwa gempa bumi terjadi, Mulyani hingga kini masih trauma. Rasa trauma itu masih membekas lantaran bencana tersebut membuat Mulyani kehilangan tempat tinggal dan melihat langsung ibunya tertimpa reruntuhan bangunan.

“Seketika saya ingat peristiwa gempa bumi dahsyat waktu itu setiap kali merasakan gempa,” urai dia.

Rasa trauma juga masih dialami Ny. Supar, 60. Sama halnya dengan Mulyani, Supar seketika berlari meninggalkan rumah ketika ia merasakan guncangan.

“Sekecil apa pun gempa yang terjadi itu saya langsung lari. Dalam pikiran saya itu guncangannya seperti saat gempa dahsyat terjadi,” kata dia.

Desa Sengon menjadi salah satu desa di Kecamatan Prambanan yang terdampak gempa bumi dahsyat 13 tahun silam. Berdasarkan data Bappeda Klaten, dampak gempa terjadi di 16 desa di Kecamatan Prambanan dengan jumlah total korban meninggal dunia 331 orang.

Sementara untuk seluruh Klaten, dampak gempa terjadi di 398 desa. Sebanyak 1.064 meninggal dunia, 18.127 luka-luka, 29.989 rumah roboh, 62.992 rumah rusak berat, dan 98.910 rumah rusak ringan.

Saban tanggal 27 Mei, berbagai kegiatan digelar untuk mengenang kembali peristiwa gempa dahsyat 13 tahun silam. Seperti di Monumen Lindu Gede, Desa Sengon, Kecamatan Prambanan.

Monumen itu menjadi tempat untuk menggelar doa bersama hingga simulasi gempa bumi setiap kali digelar peringatan gempa bumi 27 Mei 2006. Plt. Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, mengatakan peringatan gempa bumi 27 Mei 2006 menjadi momentum bagi berbagai pihak terkait potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu di Kabupaten Bersinar.

“Peringatan seperti ini dimaksudkan untuk mengingatkan berbagai pihak agar selalu siap dan mempersiapkan diri sejak dini,” katanya.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, mengatakan upaya pengurangan risiko bencana terus dilakukan salah satunya melalui sosialisasi dan simulasi. Mitigasi struktural mulai dilakukan.

Mitigasi struktural yang dimaksud yakni mengecek kondisi bangunan dan memastikan tahan terhadap gempa bumi. “Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah. Jangan sampai bangunan di daerah Klaten sisi selatan yang dulu terimbas gempa bumi, sekarang tidak kuat menahan gempa. Pantauan kami ada beberapa gedung dan sekolah di selatan perlu penguatan struktur,” ungkapnya.


Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten