Guru SD dan SMP di Sragen belajar cara-cara menghadapi siswa, Selasa (19/2/2019). (Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 109 guru SD dan SMP di Sragen belajar dari para psikolog tentang cara-cara menghadapi siswa yang merupakan anak milenial.

Mereka mengikuti program pelatihan yang difasilitasi Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI) di Gedung KPRI Masaran, Selasa-Rabu (19-20//2019). Kegiatan ini diselenggarakan CPFI bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

“Ini adalah kegiatan CSR dari CPFI. Sebelumnya CSR kami menyasar peternak berupa bedah kandang dan beasiswa untuk anak asuh. Sekarang kami menyasar kalangan tenaga pendidik,” ucap penanggung jawab (PJ) CPFI Area Jateng dan DIY, Sugianto, saat ditemui Solopos.com di lokasi.

Sugianto menjelaskan banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan siswa terhadap guru melatarbelakangi digelarnya kegiatan ini. “Kondisi sekarang berbeda dengan dulu. Dulu siswa sangat hormat dan patuh pada guru. Sekarang kami prihatin karena ada siswa yang berani melawan guru. Jadi kami menganggap para guru butuh strategi atau cara-cara ideal dalam rangka menanggulangi kenakalan siswa,” ucap Sugianto.

Kegiatan tersebut dipandu akademisi Fakultas Psikologi Undip Semarang. Selama dua hari, para guru mendapat beragam materi seperti pengenalan potensi diri, pendidikan karakter tentang cara menghadapi siswa yang punya emosi tinggi, dan lain sebagainya.

“Adanya siswa yang emosi terhadap guru bisa jadi yang salah gurunya. Kan ada istilah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Asumsi kami, kalau gurunya baik dan punya dedikasi tinggi, siswa juga akan mudah dididik menjadi anak yang baik,” jelas Zainal Abidin, salah satu trainer dalam pelatihan ini.

Dilihat dari kaca mata ilmu psikologi, Zainal menilai ada banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya kasus siswa berani melawan guru. Kenakalan murid terhadap guru bisa berasal dari murid sendiri, cara guru mengajar, pola asuh orang tua, kebijakan pemerintah, hingga pengaruh kemajuan teknologi informasi.

“Siswa SMP punya kecenderungan memberontak dan ingin menunjukkan bahwa dia itu berani, bisa melakukan apa saja. Harus diakui kompetensi guru yang satu dengan guru yang lain berbeda-beda. Ada yang benar-benar berkompeten, emosional, dan sabar. Pola asuh orang tua juga berpengaruh. Ada orang tua yang cenderung lepas terhadap pendidikan anak. Dia hanya fokus bekerja tanpa memikirkan pendidikan anak. Sering melihat tayangan film action tentang pembunuhan dan kekerasan lain di media massa juga ikut memengaruhi pola pikir anak. Di sinilah kebijakan pemerintah dalam membentengi anak dari pengaruh buruk media massa sangat diperlukan,” papar Zainal.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten