Anak-anak menari pada perayaan Sewindu Kirab Budaya Jagalan, Jebres, Solo, Minggu (3/11/2019). (Solopos/Candra Mantovani)

Solopos.com, SOLO -- Ribuan warga memadati setiap pinggir jalan di depan Kantor Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Minggu (3/11/2019) siang. Mereka menyaksikan Kirab Budaya Sewindu Hajatan Ageng Kelurahan Jagalan yang menampilkan 100 penari.

Berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, pada kirab tahunan ini Kelurahan Jagalan mementaskan pertunjukan tarian kolosal yang dilakukan sekitar 100 pelajar dan remaja.

Tarian bertajuk Jagalan Sumunar tersebut menggambarkan budaya Nusantara dari Aceh hingga Papua menjadi pertunjukan teatrikal menarik diiringi alunan gamelan dan monolog cerita.

Boyolali Undercover: Muda-Mudi Pacaran Ngamar di Hotel Part 1

Tarian bendera yang dilakukan belasan laki-laki menjadi pembuka tari kolosal tersebut yang kemudian diikuti salam oleh anak-anak yang merepresentasikan beberapa budaya dilihat dari kostum mereka.

Tarian dilanjutkan dari budaya Jawa oleh enam anak-anak yang mengenakan pakaian lurik warna hijau. Setelah itu, giliran pertunjukan Tari Saman dari Aceh yang sukses menyita perhatian para penonton.

Para penonton spontan mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam. Pertunjukan tarian dari Papua dilakukan beberapa anak laki-laki menjadi pertunjukan tarian budaya terakhir yang dipertontonkan.

Gamelan Ditabuh, Sekaten Solo Dimulai

Namun, belum selesai tarian itu, beberapa pria mengenakan pakaian merah dan topeng mengintervensi dan berusaha mengacaukan. Tak hanya itu, kelompok lainnya yang mengenakan topeng lembu dan berpakaian serbahitam juga berakrobat dengan koreografi heboh.

Setelah kelompok pria berbaju hitam dan merah tersebut menari, monolog kembali hadir menyuarakan pentingnya persatuan di tengah keberagaman budaya. Akhirnya, semua penari bersatu dan menari bersama-sama sebagai simbol persatuan.

Ketua panitia kirab, Hery Jumadi, mengatakan pertunjukan tarian kolosal itu merupakan kali pertama dalam sewindu kirab tahunan digelar. Tarian itu menceritakan budaya Nusantara yang berbeda-beda namun disatukan dalam wadah kesatuan Indonesia.

4 Toko di Matesih Karanganyar Terbakar

Melalui tarian tersebut dia berharap warga Jagalan dapat bersatu meskipun beragam budaya. “Tadi itu ceritanya tariannya ada dari Aceh sampai Papua yang berbeda namun sempat dikacaukan. Tapi kemudian kembali bersatu sebagai satu kesatuan NKRI," jelas dia.

Lurah Jagalan, Nanang Herry Triwibowo, mengatakan sewindu diadakannya kirab budaya di Jagalan tetap konsisten nguri-uri budaya. Sekitar 50 kelompok yang ikut berpartisipasi semua mempertunjukkan potensi kearifan lokal dan identitas Jagalan yang erat hubungannya dengan lembu.

“Kami ingin semua RW menggali potensi mereka. Jagalan Sumunar ini kan berarti auranya agar lebih cerah ke depannya. Semoga ke depan nanti bisa lebih cerah maju dan bersatu. Lebih damai juga dan kondusif masyarakatnya,” tutur dia.

Mahfud MD Singgung Soal Muhrim, Tengku Zul: Itu Statement Sangat Berbahaya

Kirab Budaya Sewindu Hajatan Ageng Kelurahan Jagalan juga menampilkan banyak sekali gunungan dan replika seperti sapi raksasa serta keragaman rumah ibadah.

Kirab tersebut melalui rute dari Kantor Kelurahan Jagalan melalui Jl. Surya, Jl. Ir. Juanda, dilanjutkan melalui Jl. Cokroaminoto, dan kembali ke depan Kantor Kelurahan Jagalan.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten