Tutup Iklan

Eks Area Hitam hingga Janji Jokowi di Tanggul Dawung Solo

Eks Area Hitam hingga Janji Jokowi di Tanggul Dawung Solo

SOLOPOS.COM - Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos

Warga di tanggul Kali Jenes wilayah Dawung, Solo, resah karena akan digusur untuk pembangunan gapura.

Solopos.com, SOLO -- Pomo sibuk membuat dandang di depan rumahnya di salah satu sudut Kampung Dawung, RT 005/RW 015, Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Jumat (13/10/2017).

Saat dia bekerja, istri dan beberapa tetangganya duduk-duduk di dekatnya sembari bercerita apa saja. Salah satunya rencana penggusuran permukiman mereka yang akan kena proyek gapura batas Kota Solo dengan Solo Baru, Sukoharjo.

Meskipun berada di kawasan tanggul Kali Jenes, rumah Pomo terlihat asri karena di teras rumahnya banyak tumbuh tanaman rambat dengan dedaunan hijau yang cukup lebat. (Baca: Warga Tanggul Dawung Solo Resah Dioprak-Oprak Suruh Pindah)

“Saya menempati kawasan tanggul ini sejak 2002. Dulu belum sepadat ini, masih ada tanah-tanah kaveling yang difungsikan untuk pertanian,” kata Pomo.

Saat ini, di sepanjang tanggul Kali Jenes sudah berdiri ratusan rumah. Meskipun termasuk kawasan yang dilarang untuk permukiman, namun tiap tahun makin padat.

Berdasarkan data di Kelurahan Serengan, kawasan tanggul Dawung ditinggali sedikitnya 118 keluarga. Sekretaris Paguyuban Tanggul Makam Bergolo, Suwanto, ingat betul kali pertama dia masuk ke tanggul Dawung mencari tempat bermukim pada 2001.

Saat itu, dia sering mendapatkan cerita dari warga bahwa kawasan tanggul Dawung itu adalah “area hitam”. “Mulai minuman keras, orang berkelahi, prostitusi, hingga pencuri larinya ke sini. Lepas 1999, seiring perubahan sosial politik kota pascareformasi, tanah di sepanjang bantaran ini menjadi tanah kaveling,” kata Suwarno.

Lahan di tanggul banyak dimanfaatkan warga jalan Jl. Yos Sudarso hingga Tipes. Seiring berjalannya waktu, tanah itu sering berpindah tangan bahkan diperjualbelikan.

“Istilahnya ganti paculan, sampai akhirnya orang-orang datang ke sini dan karena desakan kebutuhan, satu dua rumah mulai berdiri hingga jadi permukiman padat seperti sekarang.”

Suwanto ingat betul pada 2001 kawasan tanggul tidak ada listrik. Untuk bisa mendapatkan listrik warga harus “nggantol” sambungan listrik ke wilayah selatan Kali Jenes yang sudah masuk Sukoharjo.

Jika sekarang sudah ada PJU dan merkuri, itu hasil swadaya masyarakat tanggul. “Kemudian warga bisa pasang bergenser karena dulu syarat pasang listrik kan tidak harus ada sertifikat tanah,” tutur dia.

Penduduk makin padat, administrasi kependudukan jadi kebutuhan mutlak apalagi untuk anak-anak yang akan bersekolah. Warga tanggul akhirnya dimasukkan ke wilayah Kelurahan Serengan. Meskipun permukiman mereka ilegal, saat ini mereka memegang KTP Serengan.

Menurut Suwanto, kehidupan masyarakat tanggul jauh lebih baik dibandingkan 17-18 tahun silam. Cap sebagai area hitam sudah hilang bahkan kawasan perbatasan itu termasuk kawasan aman.

“Kami ingat Jokowi [Presiden Joko Widodo] dulu sering blusukan ke sini saat mau nyalon wali kota tahun 2010, berjanji mau menyertifikatkan tanah tanggul. Beliau bilang, dari sini lah “perahu” menuju balai kota mulai dikayuh. Sekarang bahkan sudah sampai istana negara. Kami tidak tahu apakah masih ingat dengan janjinya atau tidak.”

Masyarakat tanggul bahkan sudah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pengesahan Lokasi. Bendahara Pokja, Widdi Nugroho, juga mengatakan Jokowi dulu sering menjanjikan warga tanggul punya sertifikat tanah.

Namun, sekarang kondisinya berbeda. Suwanto, Widdi, dan warga tanggul menyadari bantaran adalah pemukiman ilegal. Namun belasan tahun itu pula pemerintah membiarkan mereka tinggal di sana.

Belakangan warga tanggul Dawung resah dengan rencana penertiban permukiman karena ada proyek gapura batas kota. Widdi menegaskan warga tidak menolak proyek itu maupun berkukuh tetap tinggal di tanggul. Dia berharap ada kompensasi yang layak bagi warga yang terdampak proyek.

“Perlakukan mereka sama seperti yang di Gandekan dan Nusukan, ada nilai tukar yang layak agar bisa mendapatkan tempat tinggal lagi,” kata Widdi.

Berita Terkait

Berita Terkini

BPCB Jateng Tutup Candi Ceto dan Sukuh Karanganyar, Ada Apa Ya?

BPCB Jateng menutup objek wisata Candi Sukuh, Candi Ceto, dan Museum Sangiran Klaster Dayu, Karanganyar, mulai 22 Juni hingga 2 Juli.

Habis Kunker, Puluhan Anggota DPRD Bantul Swab PCR, Hasilnya?

Anggota Dewan menjalani swab PCR karena Ketua DPRD Bantul dan salah satu anggota Komisi B dinyatakan positif Covid-19 seusai kunker.

Mangkrak 1 Tahun, Begini Kondisi SDN 2 Kragilan Sragen yang Disiapkan untuk Isolasi Pasien Covid-19

Bangunan SDN 2 Kragilan, Kecamatan Gemolong, Sragen, sudah tidak terpakai sejak setahun terakhir akan digunakan untuk tempat isolasi.

Terlambat Naik, Penjala Ikan di Banjarnegara Ini Terjebak di Tengah Sungai

Seorang penjala ikan di sungai serayu, Desa Bandingan, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara yang terjebak di tengah arus aliran deras sungai.

Euro 2020 Malam Ini: Cheska Vs Inggris dan Kroasia Vs Skotlandia

Inggris dan Rep Cheska sudah pernah bertemu sebanyak empat kali sejak 1998. Hasilnya, Inggris mampu menyabet dua kemenangan, Republik Cheska satu kali menang, sementara sisanya berakhir imbang.

Sepeda Anti Jatuh dari Tiongkok, Tetap Seimbang Saat Berhenti

Seorang Vlogger asal Beijing, Tiongkok menunjukkan sebuah sepeda otonom yang mampu tetap seimbang tanpa jatuh saat dalam keadaan berhenti.

Hipertensi Komorbid Penyebab Kematian Terbanyak Pasien Covid-19

Selain menjadi komorbid penyebab kematian terbanyak pasien Covid-19, hipertensi dikenal juga sebagai silent killer.

Marak Bangunan Liar di Tepi Jalan Solo-Purwodadi, Ini Sebabnya!

Jumlah bangunan liar di tepi jalan Solo-Purwodadi, tepatnya di saluran irigasi Kedung Kancil di wilayah Doyong dan Soko, Kecamatan Miri, Sragen, terus bertambah.

Lokasi Pendidikan Anak-Anak Perusak Makam Mojo Solo Tak Berizin, Kemenag Jateng: Bubarkan!

Kemenag memastikan tempat pendidikan anak-anak pelaku perusak makam di Mojo, Pasar Kliwon, Solo, tidak berizin dan harus dibubarkan.

Nilai Transaksi Pasar Modal di Soloraya Turun, Kenapa?

Jumlah investor di Soloraya naik signifikan pada semester I tahun 2021, meski nilai transaksi turun karena kondisi pasar modal kurang bagus.

PO Ini Operasikan Bus Premium, Salah Satunya Berpusat di Palur

Bus-bus kelas premium jadi cara sejumlah PO untuk menggaet penumpang saat berpergian, salah satunya PO itu ada di Palur Karanganyar.

Pencurian Toko Ponsel di Madiun Terekam CCTV, Pelaku Kenakan Masker

Aksi pencurian terekam dalam CCTV atau kamera pengintai yang terpasang di dalam toko ponsel Majuhardware, Caruban, Kabupaten Madiun.