Profil Eva Yuliana, Pengalaman Membuat Percaya Diri

Profil Eva Yuliana (Solopos/Whisnupaksa)
19 Juli 2018 10:40 WIB Spa Profil Share :

Solopos.com, SOLO -- Eva Yuliana akan kembali maju dalam Pemilu 2019. Staf Khusus Hubungan Antarlembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan Kementerian Perdagangan itu bertekad mendulang suara agar bisa bermanfaat bagi masyarakat melalui dunia politik yang ia geluti.

Eva Yuliana (Istimewa)

Tahun 2014 lalu, ia sudah maju, namun langkahnya menuju Senayan terhenti karena persaingan di Dapil V Jawa Tengah (Solo, Sukoharjo, Boyolali, Klaten) kala itu sangat ketat. Saat itu ia bergabung dengan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Sejatinya, nama Eva bukanlah nama baru dalam panggung politik Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Ia tercatat pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah periode 1999-2004. Ia menjadi wakil rakyat mewakili Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Tahun ini, ia kembali maju melalui Partai Nasdem. Ia menilai Pemilu 2019 adalah pemilu yang berbeda kondisi dibandingkan Pemilu 2013. Tahun 2013, masyarakat masih merasakan euforia perpolitikan dengan sistem banyak partai.

Kini, masyarakat sudah lebih cerdas. Mereka bisa menentukan pilihan kepada caleg yang memiliki kualitas yang baik. Bahkan, masyarakat masa ini sudah jauh-jauh hari mencermati perkembangan politik di Indonesia.

"Mengapa saya maju dalam Pemilu 2019? Alasannya simpel. Saya ingin bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa, termasuk pada warga di dapil saya [Dapil V Jawa Tengah]," ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com di Warung Soto Bati'ah Manahan, Solo, Rabu (18/7/2018).

Alumnus IAIN Walisongo Semarang itu paham benar, sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Ia kemudian mantap memilih jalur politik untuk menjadi orang berguna. Namun, dalam melakoni niat baik itu, perempuan yang pernah menjadi pengurus PP Fatayat NU pada 2005 itu sadar jalan yang ditempuh tak selamanya mulus. Hanya saja, ia percaya gemblengan kehidupan yang sudah ia alami membuatnya siap menghadapi aral di depan.

Besar di NU

Eva Yuliana (Istimewa)

"Saya memang dibesarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Saya sekolah di SMP-SMA Al Muayyad Solo. Lalu saat jadi mahasiswa pernah jadi pengurus PW Ikatan Putra Putri NU (IPPNU) Jawa Tengah. Saya juga aktif menjadi Ketua Cabang Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang," tutur alumnus Pascasarjana Universitas Nasional sekaligus London School Of Public Relation.

Kiprahnya selama ini tak lepas dari dukungan keluarganya, termasuk dua anak dan orang tuanya. Ia bersyukur lingkungan keluarga mendukung aktivitas ganda yang ia lakukan, menjadi ibu sekaligus berkiprah dalam kehidupan masyarakat luas.

"Ibu saya masih jadi ketua Muslimat NU Kota Semarang dalam usia sekitar 70 tahun. Mungkin itu salah satu alasan mengapa saya juga aktif dalam kegiatan sosial," kata dia.

Meski aktif di Semarang, Eva sejatinya merasa lebih cinta dengan Kota Solo. Keluarganya dulu berasal dari Keprabon Solo. Sekolahnya di SMP-SMA Al  Muayyad memberi kesan mendalam dalam kehidupannya. Ia teringat, guru favoritnya, K.H. Dian Nafi. Saat sang guru mengajar, ia mendengarkan dengan khusyu'.

Pelajaran Berkesan

"Materinya tidak pernah membosankan. Saat itu beliau mengajar Biologi. Tapi pelajaran tentang kehidupan yang paling berkesan," tutur perempuan yang kini menjadi komisaris dan pimpinan perusahaan swasta tersebut.

Ia merasa, pengalaman yang ia dapatkan selama ini membuatnya semakin siap maju menjadi caleg perempuan. Wanita sudah bukan lagi pelengkap laki-laki, tetapi mampu menyempurnakan apa yang ada di negara ini.  "Memang stigma perempuan sebagai kanca wingking atau identik dengan peran domestik sedikit banyak masih melekat. Tapi sebenarnya banyak perempuan yang mampu menjalani peran ganda, di rumah dan di masyarakat, " katanya.

Namun, kesiapan untuk memiliki peran ganda seperti itu butuh proses. Perempuan perlu kesiapan untuk menjalaninya. "Ada di antara kawan-kawan sesama perempuan yang memiliki potensi. Tapi lingkungannya tidak mendukung," kata dia. (Ivan Andimuhtarom)