SOLOPOS.COM - Ilustrasi Cerpen Ketapang (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO–Minibus bertuliskan Oftimis berbelok ke selatan, memasuki ruas jalan Kanci-Sindanglaut. Sebentar lagi, aku akan membaui aroma tetes tebu dan blotong. Sebentar lagi, aku bisa merasakan sejuknya angin di bawah pohon ketapang. Sebentar lagi, aku akan bisa melihat kenangan-kenangan itu.

Dahulu, sisi-sisi ruas jalan Kanci-Sindanglaut tidak sepadat ini. Jarak antarrumah memang tidak renggang dan pepohonan masih merajai. Sekarang, aku tidak tahu ke mana semua kerimbunan daun-daun itu. Dahulu, sinar matahari tidak pernah kejam, sekalipun tengah hari. Dahulu, jelas bukan sekarang.

Promosi Jalur Mudik Pantura Jawa Makin Adem Berkat Trembesi

Diiringi bising raung mesin minibus, aku teringat seminggu lalu saat aku berpamitan kepada Ryan. Kukatakan kepadanya, mungkin aku pergi berbulan-bulan, mungkin juga hanya beberapa hari. Semua bergantung pada apa yang nanti aku temui.

Ryan meradang. Ia sempat menghalangi rencanaku, tetapi ia tidak paham bahwa suara-suara di kepalaku belum akan berhenti jika tidak segera sampai di tempat itu. Ryan pergi, mungkin tidak kembali. Aku tidak peduli. Suara-suara itu memintaku untuk fokus.

Dari Denpasar, aku sudah melewati dua puluh enam jam perjalanan darat. Sewajarnya, aku memilih naik pesawat?Bandung atau Jakarta toh tidak jauh. Tetapi, tidak. Aku tidak bisa merasakan apa-apa jika tidak menjejak bumi. Aku lebih suka mengorbankan banyak waktuku untuk sebuah perjalanan yang membuat hatiku dapat membaca pekatnya rindu.

Minibus bertuliskan Oftimis sampai di depan gapura cokelat muda yang kusam. Tulisan di sana masih jelas terbaca. Sesuatu melintas begitu saja, membuat rambut halus di lenganku serentak berdiri.

“Pabrik, Neng,” kata kondektur dengan nada tegas.

Aku turun dengan debar tak beraturan. Minibus itu melanjutkan perjalanan yang nanti berakhir di Karangsuwung.

Aroma tetes tebu menggantung di udara, samar bercampur debu jalan, berlomba-lomba menuju paru-paru. Mataku meneliti sekitar. Banyak yang berubah. Warung nasi di dekat gapura sudah menjelma ruko. Tempat ini tampak terlalu terang dan gersang. Aku tidak tahu di bagian mana nanti para kenangan itu menampakkan diri.

Belum sampai aku memikirkan jawabannya, dua kakiku sudah bergerak. Baru sepuluh langkah, seorang tukang becak menawarkan jasanya. Aku menggeleng sopan sambil tersenyum.

Kaki-kakiku rindu meniti jalanan yang dahulu kulalui setiap hari, dari rumah menuju SD Cipeujeuh Wetan 1 yang letaknya tak jauh dari gapura tadi. Ah, nanti mungkin aku juga akan mampir ke bangunan itu jika segalanya telah tuntas.

Aku sampai di gapura kedua yang lebih tinggi, lebih megah. Petugas sekuriti menghampiriku dan dengan santunnya menanyakan keperluanku berkunjung. Aku tidak kenal wajahnya. Jelas, ia bukan salah satu dari wajah-wajah yang memenuhi memoriku.

Ia lebih muda dari kebanyakan wajah yang dahulu akrab di mataku. Kukatakan kepadanya, aku hanya akan duduk di lapangan ADM sambil mengetik artikel tentang pabrik gula ini. Kukatakan pula bahwa ayahku dahulu bekerja di sini?kami menempati rumah nomor dua puluh tiga.

Pria itu mengangguk, bahkan menawarkan diri untuk mengantarku. Untuk kali kedua dalam rentang dua puluh menit, aku menggeleng sopan.

Pohon itu sudah tampak dari titik aku berdiri di gapura kedua. Masih sekitar dua ratus meter, melewati musala serta sebuah taman kecil. Aku melangkah tanpa melihat hal lain. Hanya ada aku dan pohon itu. Begitu sampai di hadapannya, tanganku menjangkau, merasakan kasar kulitnya, mencari gurat-gurat yang kutorehkan di sana, dua puluh enam tahun lalu. Tiga simbol itu masih di sana, seperti tidak tercemar apa pun. Kecil, tetapi jelas terbaca. Huruf N, M, dan simbol hati di tengahnya.

O, Sang Pemilik Kerinduan, aku kembali menuntaskan janjiku.

Aku jatuh terduduk begitu saja di lantai rumput. Serakan biji ketapang hadir dalam warna cokelat tua dan hijau bersemu kuning. Pohon itu serupa sosok renta yang lelah menunggu senja. Rimbunnya masih sama, tetapi jiwanya perlahan ingin tertidur di pelukan Sang Maha. Aku merasakan napasnya tersengal saat kusentuh kulitnya—antara ledak kebahagiaan dan isak yang tertahan.

“Aku tidak tahu kalau engkau begitu menderita,” bisikku, “Menanggung janji kami yang bahkan dulu tidak sadar apa makna sebuah janji.”

Baca Juga: Seteru Samsu

Angin berkesiur manja, memainkan dedaunan yang setia memayungi Ibu Bumi sejak dulu. Dua puluh enam tahun lalu, sejuk dan teduhnya memang seperti ini, membuat aku dan Nino tidak pernah segera pulang dari sekolah. Iya, huruf N itu Nino, dan huruf M itu aku, Maria. Simbol hati itu asal saja kami buat. Memangnya, tahu apa bocah sepuluh tahun soal makna simbol hati?

Kami kerap duduk di sini, membuka ketapang-ketapang tua yang jatuh, memakannya sampai bosan, atau sampai salah satu dari orang tua kami datang menjemput. Seringnya, orang tua Nino yang muncul. Mereka bukannya melarang kami berteman. Tidak, bukan itu. Hanya saja, Nino tidak bisa berlama-lama di luar ruangan. Jika memaksa, ia akan sibuk berbaring untuk satu atau dua hari berikutnya.

Ibu sering memandangiku berlama-lama. Sampai bertahun-tahun lamanya, aku baru tahu bahwa ibu merasa kasihan kepadaku.

“Ah, mengapa cinta harus datang di masa yang dini?”

Begitu kudengar gumaman ibu suatu hari. Aku yang berumur sepuluh belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, Nino makin tidak bisa berlama-lama menemaniku duduk di bawah pohon ketapang. Namun, ada hari-hari, saat kami sudah enam belas tahun, Nino menemaniku cukup lama. Sambil mengunyah ketapang matang, kami bertukar cerita di Minggu siang yang kala itu cukup terik.

Pekan berikutnya, halaman luas itu ramai manusia. Sebuah produksi film tengah mengambil beberapa adegan di sana. Salah satunya adalah pertunjukan sintren. Aku dan Nino tidak mau ketinggalan momen itu. Kami merapat ke batang ketapang, menjadikan tonjolan akar-akarnya sebagai pijakan agar mendapat pandangan lebih jelas.

Mata kami tidak lepas dari satu objek ke objek lainnya?dari si penari yang berlenggak-lenggok luwes sampai ke kru yang bertugas memegang mikrofon bertangkai panjang.

Aku dan Nino sempat terkikik pelan sambil melempar gurauan soal perempuan yang kami lihat kedua matanya tengah ditetesi cairan entah apa. Kata salah satu kru, itu untuk memancing air mata.

“Kenapa tidak pakai bawang merah, ya?” celetuk Nino. Kami pun kembali terkikik. Lalu, sesuatu terjadi.

Genggaman tangan Nino menguat saat mereka merekam adegan pelakon pria meninggalkan pelakon perempuan yang tadi matanya ditetesi sesuatu. Pandangan Nino terpaku ke depan. Wajahnya memucat, dingin merambat. Dan, saat itulah aku sadar, senja hampir datang untuk Nino.

Dingin itu masih kurasakan bahkan berminggu-minggu lamanya, menemaniku nyaris sepanjang waktu. Di kamar, di ruang kelas, di perpustakaan, di hadapan pohon ketapang… Aku tahu, ibu makin dalam mengasihani diriku, sementara ayah tak jarang ikut duduk diam menemaniku di kamar.

Saat itu, aku tahu, aku tidak bisa berlama-lama lagi tinggal di rumah. Rumah, juga pohon di lapangan itu, akan terus membayangi hidupku. Jadi, aku pergi selepas menerima ijazah sekolah.

Selama tahun-tahun kepergianku, hanya dua kali aku meluangkan waktu menjejak tempat ini. Jangan tanya bagaimana rasanya kembali ke rumah. Aroma masam-manis tetes tebu yang biasanya menenangkan malah membuatku ingin lekas pergi. Aku bahkan tidak sanggup melirik pohon itu, meskipun dari teras rumahku, ia tampak jelas. Berdiri kokoh, menungguku menyentuh kulit kasarnya.

Sekarang, tepat dua puluh enam tahun sejak aku terakhir duduk di bawah pohon ini, aku kembali dengan hati penuh sesak. Ada haru, tetapi lebih banyak rindu bertumpuk. Suara Nino begitu saja terdengar di kepalaku.



“Aku mungkin akan rindu rasa kacang yang aneh ini.”

Aku tertawa. “Apanya yang aneh? Ini mirip almon, tahu? Almon mahal, sementara kacang ini gratis. Kita bisa mengambilnya tiap hari,” ocehku.

Nino tersenyum. Ia menyambar tanganku, menggenggamnya erat. Tangannya yang lain sibuk membebaskan wajahku dari sejumput rambut.

“Berjanjilah, Maria, kamu akan rajin mengunjungiku di sini. Dedaunan pohon ini akan segera memberiku kabar kedatanganmu.”

Mataku menghangat. “Kamu bicara apa, Nino?”

“Berjanji saja.”

Aku tidak menjawab, meskipun dalam hati, aku lantang membuat janji itu. Dan, tampaknya Nino mendengarnya pula. Sisa hari itu, hingga matahari hampir rebah di horison, kami tidak lagi memecah biji ketapang. Hanya duduk, memandang lepas ke arah barat.

Kini, mataku juga menatap arah barat. Matahari masih cukup tinggi. Langit belum akan memerah. Kurasa, yang aku tunggu belum akan menampakkan dirinya.

“Lama sekali ternyata.”



Sebentuk suara menyusup begitu saja di telingaku. Desir itu hadir. Aku belum menengok ke belakang, tetapi rasanya aku tahu siapa yang bicara.

“Nino?”

Aku berdiri. Berbalik menghadap sumber suara dan mendapatinya di sana, persis seperti yang baru saja kubayangkan.

Nino yang terakhir aku lihat adalah pemuda enam belas tahun, berwajah pucat, dengan tangan yang tetap erat menggenggam tanganku, meskipun waktunya hampir habis. Sekarang, Nino yang ada di depanku adalah lelaki dewasa dengan kumis tipis dan rahang tegas. Sorot matanya masih sama, seperti aroma setumpuk permen kapas merah muda. Ia mendekat, mengajakku menyentuh kulit pohon tempat inisial nama kami tertoreh.

“Terima kasih sudah datang, Maria.”

 

Sekar Mayang

Editor, pengulas buku, dan fotografer amatir. Hidup di Bali. Suka musik, kopi, dan jalan-jalan sendirian. Bercita-cita keliling Indonesia secara gratis.

 



 

 

 



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya