Kolom
Jumat, 23 Maret 2018 - 05:00 WIB

GAGASAN : Defosilisasi Ilmu ala Ben Anderson

Redaksi Solopos.com  /  Ichwan Prasetyo  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ben Anderson (tribulan1965.org)

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (20/3/2018). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Esai berjudul Interdisiplin Ilmu ala Soedjatmoko yang ditulis Rony K. Pratama  di Solopos edisi 14 Maret 2018 menegaskan disiplin ilmu masih terperangkap dalam cara berpikir monodisiplin, linier, dan sudah memfosil.

Advertisement

Dengan cara berpikir itu, para ilmuwan bukan saja sukar untuk keluar dari zona nyaman mereka, tetapi juga menjadi amat protektif lantaran takut tercemar dengan ilmu(wan) lainnya.

Lebih parahnya lagi, hal itu disokong oleh hambatan struktural yang lebih mengutamakan prosedur dan peraturan administratif daripada pengembangan daya dan kualitas edukatif. Akibatnya, terjadilah apa yang disebut dengan gejala “”surplus laporan, defisit perubahan”.

Dalam konteks ini, menarik untuk membandingkan dengan pengalaman yang ditulis Benedict Anderson dalam buku autobigrafinya berjudul Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016).

Advertisement

Pengalaman itu berkait dengan masalah di sebuah jurusan yang menolak memberikan jabatan pengajar tetap bagi seorang dosen. Masalah ini telah berlangsung selama 10 tahun dan tak seorang pun yang mampu mengatasi, bahkan pejabat sekelas dekan.

Usut punya usut, demikian Ben menulis pengalamannya, masalah itu terletak pada ketidaksamaan di antara anggota staf pengajar di jurusan tersebut, selain karena alasan tidak suka dan tidak mau saling memahami.

Ironisnya, di jurusan yang secara disipliner mempelajari ilmu kejiwaan, justru menjadi indisipliner dalam menghadapi masalah yang hanya memfungsikan jurusan sebagai wadah administrasi dan anggaran belaka.

Advertisement

Selanjutnya adalah: Tiga kelompok tidak saling memahami

Tidak Memahami

Cukup jelas bahwa dari tiga kelompok di jurusan itu, masing-masing para psikolog behavioris, psikoanalisis, dan sosial, sama-sama tidak memahami, apalagi mencoba memahami, apa yang dikerjakan dan dihasilkan oleh tiap-tiap kelompok.

Maka tak mengherankan kalau terbangun blok-blok yang saling membatasi di antara ketiganya hingga akibatnya kandidat mana pun yang mau diangkat sebagai profesor, misalnya, akan dengan mudah diveto atau dianggap hina karena memiliki kedekatan dengan salah satu blok.

Pada titik inilah aura akademis, dari pendidikan tinggi khususnya, telah kehilangan kontak secara disipliner. Tak jarang justru berubah menjadi sebuah ideologi baru bernama ”profesionalisme”.

Hal itulah yang membuat pendidikan tinggi hanya berpretensi menghasilkan ”tikus teori” atau ”teoritikus” sebagaimana ditulis Ben sebagai kata pengantar dalam buku berjudul Indonesia dalem Api dan Bara karya Tjamboek Berdoeri (Elkasa, 2004).

Pretensi semacam itu distandarkan sedemikian rupa sehingga dalam setiap kuliah para mahasiswa diberi daftar bacaan yang secara profesional sangat menekankan pada teori terkini. Jadi, para mahasiswa yang telah dilatih, bukan dididik, dalam kelas-kelas itu secara ideal siap bersaing dalam apa yang mulai dikenal sebagai bursa kerja akademis.

Gelar akademis mereka, bahkan PhD sekali pun, hanya menjadi sebuah kualifikasi profesi setara dengan dokter, pengacara, atau guru yang wajib lulus ujian profesi untuk bisa diberi izin praktik atau izin mengajar.

Di bawah iklim seperti itu, bukan kebetulan jika kultur profesionalitas dan ekspansi besar-besaran akademis ke bursa kerja menjadi pilihan yang tak tertandingi. Nama-nama besar dari dunia pendidikan tinggi menjadi semacam jimat atau mantra untuk membantu mencari pekerjaaan.

Selanjutnya adalah: Program studi yang sesuai dengan kepentingan di bursa kerja

Bursa Kerja

Apalagi jika nama-nama itu berasal dari jurusan atau program studi yang sesuai dengan kepentingan di bursa kerja seperti programming, broadcasting, atau bahasa asing. Itu artinya, hanya disiplin ilmu yang cocok dengan bursa kerja yang begitu diminati dan dijadikan sebuah keahlian.

Hal ini bukan perkara malas atau bahkan egois, melainkan atas dasar pengamatan terhadap para anggota staf pengajar, terutama para profesor, yang sudah terbiasa dengan profesionalitas. Masuk akal jika semakin langka intensi yang kuat dalam kelas-kelas, khususnya mahasiswa S1, yang menawarkan mata kuliah dari disiplin-disiplin ilmu lain.

Selain tak lagi banyak gunanya dalam meningkatkan peluang di bursa kerja, juga malah bisa membuat segalanya menjadi tampak amatiran. Hal inilah yang mengakibatkan sterilnya kajian dalam program studi/jurusan yang bersifat lintas ilmu (cross disciplinary).

 

Dengan kajian seperti itu sebenarnya dimungkinkan adanya suatu  jaringan kontak/koneksi antardosen dan mahasiswa dari berbagai latar disiplin ilmu yang berbeda-beda. Dengan demikian, baik publikasi ilmiah maupun mata kuliah dapat diproduksi dengan lebih kaya dan beragam.

Yang tak kalah penting adalah meruntuhkan pagar-pagar disipliner agar dunia pendidikan tinggi tidak terkurung dalam tembok-tembok intelektual yang memberi batasan dan definisi terhadap keilmuan belaka.

Penting untuk dicatat bahwa kreativitas akademis hanya akan tumbuh dan berkembang jika paduan antara egoisme kebangsaan dan rabun jauh disiplin ilmu mampu diatasi dengan diskusi dan adu pendapat yang sepenuhnya sadar dan jeli terhadap asal-usul dan perkembangan zig-zag berbagai ilmu.

Selanjutnya adalah: Disiplin ilmu di balik ketaatan rahib abad pertengahan

Disiplin Ilmu

Dari pengalaman Ben di atas, kata ”disiplin” yang diikuti dengan kata ”ilmu” mempunyai sejarah yang terentang panjang di balik ketaatan para rahib abad pertengahan.

Mereka tampak begitu kaku dan beku dalam menghukum diri sendiri dengan maksud menaklukkan raga sebagai musuh jiwa hingga tak memberi sedikit pun celah bagi kelancangan dan lanturan-lanturan tak relevan.

Hasilnya, seperti nasib para perempuan Tionghoa dalam tradisi lama, kaki-kaki mereka menjadi semakin mengecil dan sulit untuk digunakan lantaran harus dibebat erat-erat sepanjang hidup mereka.

Dunia pendidikan yang masih dibebani dengan berjubel hal-hal terlarang niscaya akan mengalami nasib serupa. Hal yang jelas dan mendesak untuk dikerjakan adalah merobohkan tembok-tembok disipliner di kelas-kelas agar mutu para akademisi menjadi semakin meningkat sekaligus mengurangi kejemuan dan membuka jalan bagi para akademisi lain yang potensial untuk berkarya lebih jauh dan luas.

Singkatnya, diperlukan upaya defosilisasi universitas agar tidak mudah terkejut dan gagap menghadapi berbagai inovasi di bidang teknologi digital. Dan inilah saat dan tempat yang tepat untuk mewujudkan pesan Ben berikut ini bagi generasi (peneliti) masa kini.

Pesan Ben adalah sebagai berikut. Katak-katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia, bersatulah!

 

 

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif