Jogja
Sabtu, 24 Februari 2018 - 13:40 WIB

Speaker Bambu Karya Difabel Laris Manis di Pasar Eropa

Redaksi Solopos.com  /  Bhekti Suryani  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Para penyandang difabel melakukan proses pembakaran speaker bambu Amalur di workshop yang ada di YPCM, Bantul Jumat (23/2/2018). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)

Speaker bambu punya suara yang dinilai unik.

Harianjogja.com, BANTUL–Upaya memaksimalkan potensi bambu, perusahaan kerajinan Arte Javane mencoba membuat kerajinan sederhana speaker bambu. Menggandeng para penyandang difabel, pengeras suara bambu ini banyak diminati pasar Spanyol, Jerman dan berbagai negara Eropa lainnya.

Advertisement

Ide awal mengembangkan produk sederhana ini bermula dari beberapa alat musik dari bambu yang ternyata mampu menghasilkan suara unik dan baik. Manager Arte Javane, Ita Harlina mengungkapkan bambu memiliki resonansi yang unik, dari inspirasi itu mencoba dibuat menjadi speaker.

“Akhirnya, kami mulai membuatnya sekitar 2013, mulai coba produksi. Produksi dilakukan selama dua bulan, kontainer pertama sebanyak 7.000 batang speaker bambu,” ujar Ita ditemui Harianjogja.com, Jumat (23/2/2018).

Produksi pertama speaker bambu langsung dibawa Koldo ke Spanyol untuk diikutsertakan dalam sebuah pameran. Bahkan, saat itu belum ada pesanan, namun setelah diperkenalkan di pameran tersebut, banyak yang tertarik dengan produk ini.

Advertisement

Sejak itu, secara berkelanjutan speaker bambu dibuat dan setiap bulan rerata 2.000-5.000 speaker dikirim ke Spanyol, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya. Di pasar tersebut, satu speaker bambu yang dilabeli dengan brand Amalur ini dijual sekitar €25- €30, atau jika dirupiahkan senilai Rp375.000.

“Sedangkan untuk pasar lokal kami menjualnya sekitar Rp100.000 per batang. Di luar negeri speaker ini banyak dibeli para turis atau sebagai kerajinan dan banyak dari mereka menggunakannya di pantai atau sebagai home decor,” papar Ita.

Tak hanya unik dan sederhana, pengerjaan kerajinan ini semuanya dilakukan oleh para perajin yang merupakan penyandang disabilitas. Ita memaparkan kesemua produk dikerjakan dengan kreativitas para penyandang disabilitas di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri (YPCM) yang berlokasi di Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul.

Advertisement

“Dulu beberapa karyawan kami berasal dari yayasan ini, lalu kami mencoba menurunkan mereka untuk membantu pengerjaan produk ini. Kurang lebih ada 20 orang yang mengerjakan speaker bambu ini,” ungkap Ita.

Tak hanya melayani pasar Eropa, speaker bambu juga dipasarkan di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya ke Bali yang setiap bulan rutin mengirim sekitar 30-100 speaker bambu.

Ita mengaku untuk pasar Jogja masih belum diperkenalkan secara langsung. Namun, produk ini pernah diperkenalkan di pameran yang digelar di Jogja, dan mendapatkan respons yang cukup baik.

“Kebanyakan kami masih melayani untuk pasar luar negeri, mungkin tahun ini akan mulai diperkenalkan di Jogja. Karena sekarang juga sudah banyak beberapa teman yang memesan, produk ini juga sangat sesuai untuk pelengkap interior rumah,” jelas Ita.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif