Penatah wayang kulit Desa Pucung memperlihatkan cara menatah kulit, Selasa (13/2/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja) Penatah wayang kulit Desa Pucung memperlihatkan cara menatah kulit, Selasa (13/2/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 15 Februari 2018 13:40 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Regenerasi Wayang Kulit di Bantul Terancam

Anak-anak muda justru menjauhi tradisi membuat wayang kulit.

Solopos.com, BANTUL–Para pengrajin wayang kulit di Desa Pucung, Wukirsari, Imogiri terkendala regenerasi pengrajin. Terkait hal tersebut Pemkab Bantul mengambil langkah dengan pembangunan showroom bersama (Showroom Wisata Wayang Wukirsari) di Pucung Barat, Dusun Nogosari.

Ketua Paguyuban Pengrajin Wayang Kulit Desa Pucung, Suyono, mengatakan saat ini anak-anak pengrajin menjauh dari kebudayaan tentang wayang. Modernisasi akibat gadget menjadi penyebab utamanya. Anak-anak muda Desa Pucung tidak merantau, namun sangat sedikit yang mau menyentuh dunia kerajinan wayang. Oleh sebab itu para pengrajin khawatir akan kelangsungan usaha mikro kerajinan wayang di Desa Pucung. “Kami berharap kepada pemerintah terkait untuk bisa memberikan suatu dorongan regenerasi pengrajin tanpa unsur paksaan,” kata Suyono, Rabu (14/2/2018).

Suyono mengatakan regenerasi mendesak dilakukan karena bergelut di kerajinan wayang tidak bisa dilakukan secara instan. Penjiwaan terhadap profesi wayang harus dimiliki oleh pengrajin. Suyono menjelaskan untuk memiliki suatu penjiwaan maka nilai-nilai kebudayaan wayang harus ditanamkan sejak dini.

Lebih jauh, Suyono mengatakan menanamkan penjiwaan dapat dilakukan melalui mata pelajaran muatan lokal (mulok) Sekolah Dasar. Selain itu, pengrajin berharap pemerintah bisa menerapkan aturan untuk mewajibkan anak-anak SD di Pucung mengunjungi showroom atau tempat produksi wayang kulit. “Kalau sejak dini diperkenalkan kan nanti jadi suka, harapannya [pengrajin] akan regenerasi,” kata Suyono.

Suyono menambahkan, selain regenerasi, pengrajin juga terkendala ketiadaan pasar terpusat. Selama ini, 800 pengrajin wayang kulit di Desa Pucung letaknya tersebar. Hal tersebut menghambat para pembeli untuk menikmati hasil produksi para pengrajin.

Asek I Bidang Pemerintahan Pemkab Bantul, Bambang Guritno, membenarkan terkait sulitnya regenerasi pengrajin wayang kulit. Oleh sebab itu Pemkab Bantul mendirikan Showroom Bersama untuk dikunjungi semua kalangan. “Kami persiapkan sisi pasarnya, untuk mengenalkan produk-produk lokal yang perlu dilestarikan,” kata Bambang. Selain itu, adanya showroom dapat mewadahi 800 hasil produksi milik pengrajin.

Akses menuju showroom bersama pun juga akan dibenahi oleh Pemkab Bantul. Bambang mengakui selama ini banyak wisatawan tersesat ketika ingin mencari tempat produksi wayang kulit. Maka pemasangan rambu penunjuk jalan akan dipasang mulai dari ujung utara Ring Road. “Transportasi juga akan dibenahi. Sudah disediakan shelter seat-nya 50. Untuk bus besar supaya bisa menurunkan penumpang di situ, nanti akan dijemput oleh penduduk yang gabung di koperasi transportasi,” kata Bambang.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…