Warga melihat alat berat sedang merobohkan sebuah rumah milik warga di atas lahan Izin Penetapan Lokasi New Yogyakarta International Airport (NYIA), Desa Kragon II, Desa Palihan, Senin (8/1/2018). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Warga melihat alat berat sedang merobohkan sebuah rumah milik warga di atas lahan Izin Penetapan Lokasi New Yogyakarta International Airport (NYIA), Desa Kragon II, Desa Palihan, Senin (8/1/2018). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 15 Februari 2018 15:27 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Polsek Kasihan Sebut Pameran "Tanah Istimewa" Belum Ajukan Izin

Kapolsek Kasihan, Kompol Supardi menyebut penyelenggara Pameran “Tanah Istimewa” dari Solidaritas Teman Temon belum mengajukan izin kepada pihak kepolisian

Harianogja.com, BANTUL–Kapolsek Kasihan, Kompol Supardi menyebut penyelenggara Pameran “Tanah Istimewa” dari Solidaritas Teman Temon belum mengajukan izin kepada pihak kepolisian.

Baca juga : Pameran Sisa Rumah Terdampak Bandara Kulonprogo Dibatalkan 

Namun pihaknya membantah telah melarang pameran tersebut. Ia menyatakan pembatalan dilakukan sendiri oleh pemilik Galeri Lorong yang terletak di Dusun Jeblog, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan.

Supardi menjelaskan mulanya Kepala Dukuh 03 datang kepadanya untuk meneruskan aduan dari warganya. Warganya merasa kurang nyaman dengan pameran yang rencananya digelar pada Rabu-Kamis (14-15/2/2018) tersebut. Pasalnya tema yang diangkat adalah mengenai penolakan adanya bandara baru.

Warga merasa khawatir hal tersebut dapat menimbulkan masalah, sehingga mereka menanyakan pada Dukuh apakah pameran tersebut sudah mendapat izin dari pihak kepolisian. “Dukuh tanya ke kami [polisi] apa sudah izin? Ya kami jawab belum ada izin,” ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (15/2/2018).

Dukuh pun menyampaikan pada penyelenggara dan pemilik galeri yang merupakan dua pihak yang berbeda. Menurut Supardi setelah mendapatkan kabar dari Dukuh, ketua panitia sempat akan mengajukan izin ke kepolisian. Namun akhirnya pemilik galeri membatalkan acara tersebut. “Jadi yang batalkan itu pemiliknya. Bukan polisi, kami kan yang penting ada izin,” katanya.

Supardi menyayangkan pihak penyelenggara maupun pemilik galeri yang tidak mengajukan izin sebelum acara tersebut diadakan. Sebab menurutnya semua kegiatan yang bakal mendatangkan massa dalam jumlah banyak seharusnya mendapatkan izin dari pihak kepolisian.

Ia juga menambahkan hendaknya izin tersebut diajukan minimal tujuh hari sebelum acara dilangsungkan. Agar pihaknya dapat menimbang efek dari acara tersebut pada masyarakat sekitar. “Jangan sore dibuka, siang baru minta izin,” imbuhnya.

Sementara itu, perwakilan Teman Temon Himawan Kurniadi mengakui pihak penyelenggara memang tidak mengajukan izin ataupun memberitahukan acara ini ke pihak dusun/desa ataupun kepolisian. Sebab menurutnya pameran ini dilaksanakan di galeri yang memang sudah biasa digunakan untuk acara-acara serupa. “Ini kan galeri. Biasanya juga buat kegiatan. Jadi buat apa minta izin?,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…