Warga Majelis Dzikir Gus Durian (MDG's) DIY membentangkan poster ajaran Gus Dur seusai menggelar doa bersama di Gereja st Lidwina Stasi Bedog, Gamping, Sleman, Rabu (14/02/2018).(Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Warga Majelis Dzikir Gus Durian (MDG's) DIY membentangkan poster ajaran Gus Dur seusai menggelar doa bersama di Gereja st Lidwina Stasi Bedog, Gamping, Sleman, Rabu (14/02/2018).(Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 15 Februari 2018 08:40 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PENYERANGAN GEREJA
Majelis Dzikir Gusdurian Berdoa Bersama di Gereja St Lidwina

Majelis Dzikir Gusdurian sampaikan simpati terhadap tragedi penyerangan gereja.

Solopos.com, SLEMAN–Puluhan jemaah Majelis Dzikir Gusdurian (MDGs) datang ke Gereja St Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Rabu (14/2/2018) siang. Sebagai wujud simpati atas penyerangan di gereja, mereka melakukan doa bersama.

Dewan Pembina Majelis Dzikir GusdurianĀ  DIY, Kyai Umar Masdar mengatakan sebagai pecinta Gus Dur dan kaum muda NU, Majelis Dzikir Gusdurian Dirinya merasa terluka seperti apa yang dirasakan umat Gereja St Lidwina. “Siapa pun yang melukai fisik mereka [jemaat gereja] sama saja melukai fisik kami, melukai hati mereka berarti juga melukai hati kami, melukai iman mereka sama saja meluakai iman kami,” kata dia, Rabu (14/2/2018)

Dalam pertemuan dengan pengurus gereja tampak tak ada sekat. Baik umat gereja maupun jamaah MDGs duduk bersama dan saling berdoa berdasarkan kepercayaan masing-masing, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama.”Kita adalah saudara sebangsa dan saudara sesama manusia,” katanya.

Baca juga : Empat Orang Terluka dalam Penyerangan Gereja St Lidwina

Lanjutnya lagi, tindakan penganiayaan dan penyerangan yang tejadi pada Minggu (11/2/2018) itu tidak mewakili ajaran mana pun. Terlebih dalam Islam, tidak dibenarkan segala bentuk kekerasan apalagi sampai mengancam jiwa

Sementara itu, Pastur Romo Yohanes Dwi Harsanto PR, Romo Kepala Paroki Kemetiran yang menaungi Gereja Santa Lidwina menyambut baik silaturahmi yang dilakukan MDGs. Ia merasa kunjungan ini bisa mempercepat penyembuhan akibat kejadian penganoayaan beberapa waktunlalu.

Baca juga : PENYERANGAN GEREJA : Terbaring di RS, Suliyono Tak Dijenguk Keluarganya

“Seperti ini [silaturahmi] sudah seharusnya menjadi kebiasaan kita sebaiknya dilanjutkan dan menjadi pola berbangsa dan bermasyarakat kita sehari-hari. Ada atau tidak teroris kita harus tetap bersatu sebagai satu bangsa, satu hati,” ujar dia.

Lanjutnya, bahwa ia ingin sungguh-sungguh membuat Indonesia bangkit daan saling menguatkan satu sama lain.

Sementara itu, pihak gereja juga tengah mengupayakan trauma healing kepada anak-anak yang tampak syok atas kejadian pada Minggu (11/2/2018) lalu tersebut. “Pasti syok itu yang mau kita dampingi,” ungkapnya.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…