Sejumlah orang melintasi kawasan relokasi bagi warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang menggunakan Pakualaman Ground (PAG) di wilayah Desa Kedundang, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (11/9/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Sejumlah orang melintasi kawasan relokasi bagi warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang menggunakan Pakualaman Ground (PAG) di wilayah Desa Kedundang, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Senin (11/9/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 15 Februari 2018 14:19 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

BANDARA KULONPROGO
Penghuni Relokasi Kedundang Harus Tunggu Verifikasi

Daftar calon penghuni rumah relokasi warga di Desa Kedundang, Kecamatan Temon, masih harus menunggu verifikasi tim khusus

Solopos.com, KULONPROGO-Daftar calon penghuni rumah relokasi warga di Desa Kedundang, Kecamatan Temon, masih harus menunggu verifikasi tim khusus.

Namun Pemerintah Kabupaten Kulonprogo memastikan, penghuni rumah adalah warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) dari golongan kurang mampu atau warga yang sebelumnya mengindung di lahan tersebut.

Kepala Bidang Perumahan dan Pemukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo, Suparno mengungkapkan, rumah tersebut sudah selesai dibangun dan sedang dalam proses serah terima Provisional Hand Over (PHO) di tingkat kementerian.

Verifikasi diperlukan untuk memastikan tepat sasaran. Setelah diverifikasi, sejumlah nama warga terdampak yang sudah terdata sebagai calon penghuni rumah tadi masih harus disesuaikan dengan Peraturan Bupati yang mengatur tentang hunian tanah kas desa dan Paku Alam Ground (PAG) untuk relokasi warga terdampak NYIA. Suparno tidak dapat memastikan lama waktu verifikasi dan kapan warga bisa mulai menempati rumah tersebut.

“Proses masih berjalan. Tim khusus verifikasi terdiri dari unsur Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, melibatkan kepala desa asal warga calon penghuni rumah,” kata dia, Rabu (14/2/2018).

Sedikitnya ada 46 Kepala Keluarga (KK) berasal dari Desa Glagah dan 28 KK dari Desa Palihan yang telah terdaftar lewat Pemerintah Desa dan telah disampaikan ke Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (Kemen Pu Pera) sebagai calon penghuni rumah relokasi magersari tersebut.

Kompleks relokasi magersari di Desa Kedundang menempati lahan PAG seluas sekitar 4.800 meter persegi, terdiri dari 50 unit rumah tipe 36. Dua rumah dialokasikan bagi warga yang telah mengindung di atas lahan tersebut. Pekerjaan ditangani oleh Kemen PU Pera dengan anggaran sekitar Rp4,9 miliar.

Selain mendapatkan rumah jadi, warga yang ikut dalam program relokasi ini juga mendapatkan perlengkapan perabotan secara gratis. Rumah juga telah dilengkapi sambungan listrik dan jaringan air. Diketahui, ada 99 KK terdampak NYIA yang sudah didaftarkan untuk ikut dalam program relokasi magersari.

Namun hanya 50 KK yang sudah disetujui oleh kementerian. Sisanya, masih akan diajukan untuk ditempatkan di lahan PAG Desa Kaligintung pada tahun anggaran 2018, namun hingga kini Pemkab masih belum dapat memberikan informasi lebih jauh mengenai rencana tersebut.

Kepala Desa Glagah, Agus Parmono mengatakan, ada 18 KK warga terdampak NYIA dari Glagah yang disetujui untuk diikutkan dalam program relokasi magersari. Ia menyebut masih belum ada pendataan lagi terkait sisa warga yang belum tertampung program relokasi ini.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…