Salah satu pedagang beras di Pasar Semampir, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu. Rabu (14/2/2018). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Salah satu pedagang beras di Pasar Semampir, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu. Rabu (14/2/2018). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 15 Februari 2018 13:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Ada Beras Murah, Pedagang Tak Bisa Ikut Turunkan Harga

Pedagang beras di Kabupaten Bantul tengah ketar ketir akan adanya kebijakan pemerintah pusat melalui Menteri Perdagangan yang mendatangkan 500 ribu beras impor

 

Solopos.com, BANTUL--Pedagang beras di Kabupaten Bantul tengah ketar ketir akan adanya kebijakan pemerintah pusat melalui Menteri Perdagangan yang mendatangkan 500 ribu beras impor dari Vietnam dan Thailand. Mereka khawatir harga beras di pasar bakal anjlok. Apalagi sejak Selasa (12/2/2018) lalu, beras impor tersebut mulai masuk Indonesia secara bertahap.

Sebagaimana diketahui, melalui Permendag Nomor 1/2018 Menteri Perdagangan Enggartiato Lukita mengambil kebijakan impor beras untuk menurunkan harga beras. Kebijakan tersebut kembali digulirkan setelah pemerintah mengimpor beras terakhir pada 2015.

Sebelumnya, berbagai upaya telah dilakukan untuk menstabilkan harga beras. Salah satunya menggandeng Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menggelar operasi pasar. Bulog menggelontorkan stok beras jenis medium ke pasar-pasar tradisional. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Pasalnya harga beras tidak kunjung turun setelah operasi pasar dilakukan.

Salah satu pedagang beras di Pasar Semampir, Painem mengatakan sudah sekitar dua bulan ia menjual beras jenis IR64 seharga Rp12.000 per kilogram. Ia menyebut harga beli beras jenis tersebut juga sudah tinggi yakni Rp11.500 per kilogram dari gilingan. Mau tidak mau ia pun menjual beras tersebut dengan harga di atas HET yang berkisar antara Rp10.000 per kilogram. “Ambil berasnya dari Sleman,” ujarnya, Rabu (14/2/2018).

Painem mengaku khawatir dengan adanya kebijakan impor beras. Pasalnya pada Maret hingga April akan ada panen raya. Jika ratusan ribu ton beras tersebut didistribusikan bebarengan dengan masuknya beras hasil panen raya dari petani, maka harga beras di pasaran akan anjok karena surplus. “Kasihan petani enggak untung. Padahal nggarap sawah, bayar tenaga, pupuk, sekarang mahal,” ujarnya.

Pedagang beras Pasar Bantul, Sarjiyah mengatakan hal senada. Menurutnya kebijakan impor beras itu bisa merusak harga pasar. Oleh sebab itu kini ia tak berani menyetok beras dalam jumlah banyak. Maksimal ia hanya menyetok setengah kuintal saja untuk satu bulan.

Sebelumnya, saat harga beras masih stabil ia biasa menyetok hingga dua kuintal beras. Itu untuk berjaga-jaga agar ia tak merugi saat ada beras impor yang masuk berbarengan dengan waktu panen. “Kalau punya banyak terus harganya turun, saya rugi,” katanya.

Sarjiyah juga mengaku sudah lebih dari satu bulan menjual beras jenis IR64 seharga Rp12.000 per kilogram dan mentik wangi seharga Rp13.500 per kilogram. Namun ia tak tahu persis mengapa harga beras sudah tinggi sejak dari tingkat pemasok. Sebab menurutnya stok beras juga tidak langka.

Sementara itu, Kepala Bidang Distribusi Sarana dan Prasarana Disdag Bantul, Yus Warseno menyatakan belum mendapatkan kabar apakah Kabupaten Bantul mendapat jatah beras impor atau tidak. Namun menurutnya meskipun ada, beras impor tersebut hanya akan dialokasikan untuk pihak khusus.

Seperti pengusaha kuliner, restoran, dan lain-lain. Sehingga pedagang pasar tradisional tak perlu khawatir akan adanya beras impor ini. “Kalau menurut Dinas Pertanian Bantul tidak kekurangan beras. Jadi kemungkinan beras impor tidak akan masuk sini,” imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pusat, secara umum harga beras jenis medium yang banyak dikonsumsi masyarakat selama Desember 2017 naik 2,66% dari Rp9.280 per kilogram menjadi Rp9.526 per kilogram. Sedangkan pada Januari 2028, data harga beras dari Pasar Induk Beras Cipinang, harga beras medium mencapai Rp11.275 per kilogram.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…