Para pemulung mengumpulkan sampah yang belum dipilah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. (JIBI/HarianJogja/Gigih M. Hanafi)
Rabu, 14 Februari 2018 05:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Volume Sampah yang Dibuang ke TPST Piyungan Sudah Tak Wajar

Sehari 632 ton sampah dibuang ke TPST Piyungan.

Solopos.com, JOGJA–Produksi sampah Kota Jogja, Sleman, Bantul setiap tahunnya selalu meningkat. Akibatnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang ada di Piyungan Bantul harus menanggung beban yang berat. Semestinya sampah yang dibuang ke tempat itu hanya residu, tapi nyatanya sisa makanan, plastik dan sebagainya rutin dibuang ke TPST. Pemerintah tingkat dua dinilai belum mampu mengolah sampah jadi sesuatu yang bermanfaat.

Data Balai Pengelolaan Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum Perkotaan (Pisamp), Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) DIY menunjukkan, setiap tahun ada peningkatan jumlah sampah yang dibuang ke TPST Piyungan. Pada 2014, setiap hari rata-rata sampah yang dibuang sebanyak 403 ton, lalu naik jadi 404 ton/hari pada 2015, pada 2016 sampah yang dibuang sebanyak 432 ton/hari, kemudian pada 2017 volume sampah yang dibuang naik signifikan jadi 550 ton/hari dan pada Januari 2018, naik lagi jadi 632 ton/hari.

Kepala Balai Pisamp, DPUP-ESDM DIY Kus Pramono menyebut, beban yang ditanggung TPST Piyungan sudah sangat berat. Sebab, idealnya dengan kondisi saat ini tempat itu seharusnya hanya menerima kiriman sampah sebanyak 400 ton/hari, yang merupakan kumpulan residu dan sampah yang masih bisa diolah. “Semestinya kabupaten dan kota mengurangi pasokan sampah dengan pengolahan yang tepat,” ucapnya melalui sambungan telepon, Selasa (13/2/2018).

Pengolahan sampah, ucapnya, penting dilakukan karena seharusnya TPST Piyungan hanya menerima residu, bukan sampah organik dan nonorganik yang masih bisa diolah. Namun, nyatanya sampah yang dibuang di TPST Piyungan didominasi sisa makanan, sayuran, buah dan lain-lain (organik) yakni 56,7%. Sampah nonorganik sendiri tercatat sebanyak 43,8%. Bahkan, pada 2019 nanti diperkirakan TPST seluas 10 hektare itu sudah tak mampu lagi menampung volume sampah yang kian hari makin bertambah banyak.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…