Dua pasangan calon (paslon) pada Pilgub Jateng 2018 tampil bersama dalam konferensi pers seusai pengambilan nomor urut di Hotel Patra Jasa, Semarang, Selasa (13/2/2018) malam. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.) Dua pasangan calon (paslon) pada Pilgub Jateng 2018 tampil bersama dalam konferensi pers seusai pengambilan nomor urut di Hotel Patra Jasa, Semarang, Selasa (13/2/2018) malam. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Rabu, 14 Februari 2018 07:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

PILKADA 2018
Di Hadapan Ganjar, Sudirman Ingatkan Kepala Daerah yang Ditangkap KPK

Pilkada 2018 diwarnai persaingan Ganjar Pranowo dan Sudirman Said di Pilgub Jateng.

Solopos.com, SEMARANG – Persaingan memperebutkan kursi gubernur pada Pilkada atau Pilgub Jateng 2018 mulai memanas. Kedua pasangan calon (paslon) yang bersaing pun mulai saling serang meskipun tidak secara langsung.

Indikasi adanya intrik itu bahkan terlihat saat pengundian nomor urut paslon Pilgub Jateng di Ballroom Rama Shinta Hotel Patra Jasa, Semarang, Selasa (13/2/2018) malam. Saat itu, calon gubernur (cagub) yang diusung Partai Gerindra, PKB, PAN, dan PKS, yakni Sudirman Said, memberikan pernyataan jika terpilih menjadi gubernur tidak akan menambah daftar kepala daerah yang ditangkap KPK.

“Saat ini sudah ada 93 kepala daerah yang ditangkap KPK karena tersandung masalah korupsi. Dari 93 kepala daerah itu, 21 di antaranya merupakan gubernur. Jika terpilih menjadi gubernur Jateng nanti kami tidak ingin menambah daftar kepala daerah yang ditangkap KPK,” ujar Sudirman saat memberikan pidato seusai pengambilan nomor urut pada Pilgub Jateng 2018.

Sudirman dan pasangannya Ida Fauziyah dalam pengundian nomor urut itu akhirnya mendapat nomor urut dua. Menanggapi nomor urut ini, Sudirman mengaku senang.

[Baca juga Ambil Nomor Urut, Sudirman-Ida Disambut Ratusan Pendukung]

“Dalam Pancasila, sila kedua berbunyi,’Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.’ Jika terpilih menjadi gubernur kami akan menjadikan Jateng lebih beradab,” ujar Sudirman.

Sementara itu, terhadap pernyataan Sudirman itu Ganjar belum memberikan tanggapan. Politikus PDIP yang saat ini menjabat sebagai gubernur Jateng itu saat ini memang kerap disangkutpautkan dengan kasus korupsi megaproyek e-KTP. Bahkan, Ganjar sempat menjalani persidangan kasus korupsi e-KTP dengan tersangka mantan Ketua DPR RI, Setyo Novanto.

Saat sesi jumpa pers seusai pengundian nomor urut paslon Pilgub Jateng 2018, Ganjar hanya menceritakan tentang apa aktivitas terakhirnya sebagai gubernur sebelum mengambil cuti pada Kamis (15/2/2018).

[Baca juga Dapat Nomor Urut 1, Ganjar-Yasin Yakin Menang]

“Besok [Rabu, 14 Februari 2018] saya harus masuk kerja. Kalau enggak kerja nanti dimarahi wong udah dibayar. Tugas besok melantik plt [pelaksana tugas] bupati yang daerahnya menggelar pilkada,” ujar Ganjar.

Ganjar juga menceritakan tentang rencana pindah dari rumah dinas gubernur yang selama ini ditempati. “Besok pindahan. Masih tetap di Semarang. Tadi sih sudah mencicil [pindahan],” beber Ganjar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…