Tito Setyo Budi (foto: istimewa) Tito Setyo Budi (Istimewa)
Rabu, 14 Februari 2018 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi goreng. Apa beda nasi goreng zaman old dan zaman now? Alkisah, pada zaman saya kanak-kanak, era 1960-an, setidaknya hingga awal 1970-an, jika anak-anak diberi sarapan nasi goreng itu berarti nasi yang sudah basi kemudian digoreng.

Zaman sekarang nasi yang sudah basi jamak dibuang atau diberikan kepada ayam (itu pun jika ayamnya masih doyan). Nasi goreng zaman sekarang adalah nasi yang masih segar, sehat, kemudian digoreng dengan aneka bumbu.

Pada waktu sarapan, saat ini, dan ternyata nasi belum tersedia maka tak perlu repot-repot. Ambil saja mi instan, direbus kemudian disantap, habis perkara. Tak peduli apakah itu orang kaya atau miskin, orang gedongan atau penghuni gubug reyot. Mi instan telah menjadi makanan nasional bahkan internasional.

Penyeragaman rasa telah terjadi di hampir seluruh belahan dunia. Dengan mi instan maka jutaan lidah tanpa tersadari telah mengalami penyeragaman rasa (generalized). Begitulah globalisasi menjadi aktor utama penyeragaman.

Tak hanya soal rasa di lidah, namun juga merembet ke dimensi kehidupan lain. Martin Wolf (2004) dalam Why Globalization Work menjelaskan perubahan teknologi dan ekonomi memiliki dampak kultural, sosial, dan politik yang kompleks. Mi instan sebagai produk teknologi pangan bisalah disebut sebagai contoh.

Lalu bagaimana masalah berkesenian kita, terutama seni tradisional? Bagaimana agar seni tradisi tetap lestari di tengah gempuran dahsyat globalisasi? Topik itulah yang membuat sekitar seratusan budayawan dan seniman tradisional di Kabupaten Sragen pada Rabu (7/2) berkumpul, berembuk, dan mencari jalan keluar dalam diskusi bertajuk Dialog Kebudayaan Daerah dan Sragenisme.

Ini acara yang menantang namun tetap luput dari pengamatan pers yang ternyata memang lebih tertarik pada masalah harga gabah dan perekrutan pegawai rumah sakit (Solopos, 8 Februari 2018).  Sebuah sudut pandang yang tentunya tidak keliru dilihat dari sisi jurnalistik.

Sejak kapan seni tradisi menjadi primadona dalam kehidupan kita? Barangkali hanya pada masa sebelum hingga awal-awal Indonesia merdeka seni tradisi masih punya tempat di hati masyarakat. Yang jelas pada 1970-an kegelisahan soal kehidupan seni tradisi sudah muncul.

Pakar dan seniman tari Edi Sedyawati paling banyak membahas. Sejumlah artikel yang dia paparkan dalam berbagai seminar akhirnya dibukukan dengan judul Pertumbuhan Seni Pertunjukan (1981). Salah satu tulisan dia yang menarik disimak dari buku tersebut berjudul Tentang Pengembangan Seni Pertunjukan Tradisional

Tulisan tersebut merupakan kertas kerja untuk seminar seni rupa dan seni pertunjukan dalam rangka Study on Malay Culture. Sedyawati memberikan sejumlah pandangan, arahan, agar seni tradisi tetap tumbuh dan memiliki daya lestari di tengah konstelasi kehidupan berkesenian pada waktu itu, namun jika itu dilaksanakan dalam situasi kekinian akan menjadi resep yang kedaluwarsa.

Selanjutnya adalah: Usahakan pengembangan seni pertunjukan tradisional

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…