Mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo sedang memberikan pelatihan pembuatan pestisida organik daun mindi kepada petani Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Karanganyar, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Humas UTP Solo) Mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo sedang memberikan pelatihan pembuatan pestisida organik daun mindi kepada petani Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Karanganyar, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Humas UTP Solo)
Rabu, 14 Februari 2018 00:00 WIB Insetyonoto/JIBI/SOLOPOS Pendidikan Share :

Begini Cara UTP Solo Membuat Pestisida Organik dari Daun Mindi

UTP Solo memberikan pelatihan kepada petani Desa Karangkerjo Karanganyar cara membuat pestisida organik.

Solopos.com, SOLO–Fakultas Pertanian (FP) Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo memberikan pelatihan pembuatan pestisida dari daun mindi kepada para petani Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Karanganyar.

Dekan FP UTP Solo, Endang Suprapti, mengatakan daun mindi memiliki khasiat memberantas hama dan penyakit tanaman.

“Melalui pengabdian kepada masyarakat ini, kami mengajak petani memanfaatkan daun mindi dengan cara mengolah menjadi pestisida organik,” katanya dalam rilis kepada Solopos.com, Senin (12/2/2018). (baca: PENDIDIKAN SOLO: 227 Mahasiswa UTP Solo Diwisuda)

Menurut dia, Desa Karangrejo menjadi pilihan karena selain menjadi lokasi KKN mahasiswa UTP memiliki potensi pertanian yang besar, serta banyak tumbuh pohon mindi.

FP UTP pernah melakukan penelitian terhadap pohon mimba yang berasal dari India yang bias dibuat menjadi pestisida nabati untuk pertanian.

“Pohon mimba ternyata satu keluarga dengan pohon mindi sehingga kami memberikan pelatihan kepada petani membuat pestisida organik dari bahan daun mindi,” ungkap Edang.

Pelatihan pembuatan pestisida organik daun mindi dipandu dosen FP UTP, Tyas Soemarah K.D dan mahasiswa KKN.

Menurut Tyas, untuk membuat 20 liter pestisida nabati organik membutuhkan sekitar 8 kilogram daun mindi, 6 kg lengkuas, dan 6 kg serai.

Semua bahan dicampur menjadi satu dengan air dan ditambah sabun cair secukupan. Sabun cair ini sebagai perekat agar pestisida yang dihasilkan bagus.

Setelah semua bahan dicampur kemuian didiamkan selama tiga sampai lima hari. Jika diperlukan ditambah alkohol 95% sebanyak 50 mililiter untuk mempercepat mengeluarkan zat pestisida yang terkandung dalam bahan tersebut.

“Bahan baku ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Lebih sedikit pestisida yang dihasilkan, semakin sedikit pula bahan yang dibutuhkan. Sebaiknya membuat untuk dua sampai lima 5 kali pemakaian,” paparnya.

Efek dari pestisida organik daun mindi, tidak bisa dirasakan secara langsung, yakni setelah disemprotkan langsung membunuh hama tersebut, tapi secara perlahan.

Jika pestisida disemprotkan ke hama wereng, maka akan berakibat wereng tersebut kehilangan nafsu makan, hingga akhirnya mati.

Bila terkena telur ulat, maka tidak akan menetas, dan jika terkena wereng, walang sangit jantan atau betina, maka akan mengilangkan kemampuan bereproduksi.

“Untuk itu penjadwalan penyemprotan secara tepat dan teratur sangat diperlukan dalam menentukan keberhasilan penggunaan pestisida organik ini,” jelasnya.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…