Ilustasi pendidikan (JIBI/Dok) Ilustasi pendidikan (JIBI/Dok)
Rabu, 14 Februari 2018 10:55 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Pendidikan Share :

90 Persen SMA/SMK DIY Terapkan Lima Hari Sekolah

Kegiatan lima hari sekolah bagi SMA/SMK ini akan dievaluasi ketika susah berjalan satu semester

Solopos.com, JOGJA-Disdikpora DIY memastikan sekitar 90% SMA/SMK di DIY sudah menerapkan lima hari sekolah pada semester kedua tahun ajaran 2017/2018. Sabtu yang menjadi hari libur digunakan untuk mendukung siswa dalam melakukan aktivitas sosial budaya baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat umum.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdikpora DIY Triyana Purnamawati menjelaskan, sejak awal 2018 atau memasuki semester kedua tahun ajaran 2017/2018, seluruh SMA/SMK Negeri di DIY baru menerapkan lima hari sekolah. Sementara, pada SMA/SMK swasta diberikan kebebasan sesuai kemampuan sumber daya sekolah masing-masing.

Akan tetapi, berdasarkan hasil identifikasi setelah berjalan sekitar sebulan, ada sekitar 90% SMA/SMK baik negeri maupun swasta di DIY yang sudah menerapkan lima hari sekolah. “Sudah banyak yang menerapkan, yang belum itu hanya sekitar 10 persen dari total SMA/SMK,” ungkapnya, Selasa (13/2/2018).

Kegiatan lima hari sekolah bagi SMA/SMK ini akan dievaluasi ketika susah berjalan satu semester. Sejumlah sekolah yang belum melaksanakan biasanya ada keterbatasan SDM sehingga memilih enam hari sekolah. “Tetapi yang swasta banyak juga yang menerapkan, ini merata di seluruh DIY,” ujar dia.

Ia menambahkan, pendidikan karakter ada tiga ranah yaitu berbasis kelas, masyarakat dan sekolah. Untuk berbasi kelas, berupaya memunculkan nilai karakter diimplementasikan di semua mata pelajaran. Serta siswa diberikan materi pembiasaan agar membentuk karakter anak. Bagi sekolah yang menerapkan lima hari sekolah, ia berharap sekolah tetap melakukan pemantauan terhadapa siswa saat hari Sabtu. Sehingga hari Sabtu ini sebaiknya didorong untuk implementasi pendidikan karakter berbasis masyarakat.

“Jangan sampai ketika anak libur hari Sabtu kemudian tidak terkontrol, kita mengkhawatirkam asa kejadian yang tidak kita inginkan misalnya kekekerasaan saat pelajar itu libur,” imbuhnya.

Oleh karena itu, kata dia, libur hari Sabtu diarahkan untuk pendidikan karakter siswa dengan program yang dimiliki sekolah. Beberapa sekolah melaporkan adanya siswa yang memiliki rutinitas kegiatan sosial pada haro Sabtu seperti kerja bhakti.

Adapun pengawasan yang dilakukan sekolah bisa dilakukan dengan membuat jurnal kemudian siswa diminta mengisi kegiatan hari Sabtu yang kemudian menjadi bahan penilaian guru. “Ada sekolah yang hari Sabtu melaksanakan kerja bakti di lingkungan masyarakat sekolahnya. Ada juga kepramukaan, ada yang di Panti Asuhan, ada juga yang pengajian di salah satu rumah siswa yang dihadiri orang tua bagi,” urai dia.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…