Pengrajin gerabah asal Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, mengikuti pelatihan teknik glasir di Nuanza Porcelain, Boyolali, yang digelar oleh Dinas Koperasi san UKM Provinsi Jawa Tengah, Senin (12/2/2018). (Istimewa/Dokumentasi Diskop UKM Provinsi Jawa Tengah) Pengrajin gerabah asal Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, mengikuti pelatihan teknik glasir di Nuanza Porcelain, Boyolali, yang digelar oleh Dinas Koperasi san UKM Provinsi Jawa Tengah, Senin (12/2/2018). (Istimewa/Dokumentasi Diskop UKM Provinsi Jawa Tengah)
Rabu, 14 Februari 2018 12:15 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/SOLOPOS Klaten Share :

15 Pengrajin Gerabah Wedi Klaten Dilatih Teknik Glasir

15 Pengrajin gerabah asal Desa Melikan, Kecamatan Wedi, dilatih pembuatan gerabah dengan teknik glasir.

Solopos.com, KLATEN—Sebanyak 15 pengrajin gerabah asal Desa Melikan, Kecamatan Wedi, dilatih pembuatan gerabah dengan teknik glasir. Mereka dibina dengan konsep magang di perusahaan keramik asal Boyolali, Nuanza Porcelain, selama 12 hari.

Kepala Bidang Restrukturisasi dan Pembiayaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Sondhy Purwoko, mengatakan dari pelatihan itu jika Nuanza Porcelain menerima pesanan, akan disubkan kepada pengrajin. Tak hanya itu, peserta pelatihan akan diikusertakan dalam pameran UMKM di Java Mal.

“Nanti Bayat akan di-rebranding dengan model Bayat zaman dahulu dan Bayat zaman sekarang,” kata Sondhy, saat ditemui Solopos.com di Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Klaten, Selasa (13/2/2018). (baca: WISATA KLATEN : Tak Hanya Rekreasi, di Kampung Ini Pengunjung Bisa Belajar Bikin Gerabah)

Menurut Sondhy, kendala pengembangan gerabah Melikan ada di bagian pemanasan. Gerabah Melikan tidak tahan pemanasan di suhu 700 derajat celsius. Padahal, teknik glasir membutuhkan pembakaran dengan suhu 1.200 derajat celsius.

“Alat pemanasnya ada, tapi rusak. Padahal sudah ada sejak lama. Harganya juga mahal sekitar Rp1 miliaran. Kalau tungku itu kami renovasi sedikit sehingga bisa dipakai pengrajin, hasilnya akan lebih baik,” harap dia.

Tungku yang rusak itu dibenarkan oleh Sekretaris Desa Melikan, Sukanta. Tungku saat ini disimpan di labiratorium keramik di Desa Melikan. Menurut dia, Diskop UKM Jawa Tengah akan membantu perbaikan alat itu.

“Kami diminta mengajukan proposal. Saat ini kami masih kesulitan soal spesifikasi teknis tungku. Kami belum bisa mengoperasionalkan tapi sudah rusak,” kata dia.

Sukanta berharap pelatihan itu bisa menambah nilai produk gerabah bikinan Melikan tanpa mengubah teknik desain yang selama ini dipakai pengrajin. Kendati demikian, ke depan, secara bertahap pengrajin didorong membikin produk keramik dengan tingkat kesulitan lebih tinggi dan disukai oleh konsumen.

“Harapan kami teknik putaran miring dan tegak itu yang kemudian dipoles dengan teknik glasir sehingga tidak mencabut kekhasan gerabah Melikan. Bahan baku juga harus diambil dari sentra. Kalau ambil dari luar sama saja menambah ongkos produksi,” jelas Sukanta.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…