Dosen dan mahasiswa Stikes Jenderal Achmad Yani saat menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyakarakat di Lumbungrejo, Tempel beberapa waktu lalu (Ist/Dok Stikes Jenderal Achmad Yani) Dosen dan mahasiswa Stikes Jenderal Achmad Yani saat menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyakarakat di Lumbungrejo, Tempel beberapa waktu lalu (Ist/Dok Stikes Jenderal Achmad Yani)
Selasa, 13 Februari 2018 11:20 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Peran Posyandu Harus Lebih Optimal

Hal itu untuk meminimalisasi kasus kesehatan ibu dan anak

Solopos.com, SLEMAN-Peran Posyandu dan para kader di desa-desa harus lebih dioptimalkan. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi kasus kesehatan ibu dan anak.

Dosen Kebidanan Stikes Jenderal Achmad Yani Silvia Ari Agustina mengatakan, masalah kesehatan ibu dan anak di desa-desa masih perlu mendapat perhatian. Pihaknya masih menemukan beberapa kader yang tidak aktif dan Posyandu yang belum menerapkan sistem lima meja.

“Kami menemukan dari 35 ibu hamil di Lumbungrejo, Tempel ada yang kekurangan energi kronis dan 13 lainnya mengalami anemia,” katanya melalui rilis yang diterima Solopos.com, Senin (12/2).

Pihaknya juga menemukan berat badan sejumlah balita masih mengalami bawah garis merah (BGM) dan bawah garis tengah (BGT) akibat faktor gizi. Balita juga ada yang mengalami stunting dan juga picky eaters. “Penerapan ASI ekslusif juga belum berhasil. Ada beberapa PUS yang tidak ber-KB sehingga jarak kehamilan terlalu dekat. Ini data-data yang dihasilkan mahasiswa ketika melakukan pendataan secara door to door,” katanya.

Berangkat dari sejumlah persoalan tersebut, pihaknya kemudian menggelar bakti sosial di Lumbungrejo sejak Kamis (8/2/2018) hingga Minggu (11/2/2018). Baksos digelar sebagai wujud pengabdian kepada masyakarakat, melibatkan dosen dan mahasiswa Stikes Jenderal Achmad Yani Jogja.

“Kami mengangkat tema kebidanan komunitas terintegrasi melalui asuhan komplementer. Asuhan komplementer itu seperti yoga, teknik relaksasi pada ibu hamil, dan pijat bayi,” jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat Lumbungrejo diikutkan dalam sejumlah program. Mulai pelatihan dasar kader, kelas ibu hamil (penyuluhan ANC terpadu, tanda bahaya kehamilan, yoga ibu hamil, dan pameran gizi ibu hamil), kelas bayi balita (Penyuluhan, SDIDTK, Pijat bayi, dan Demonstrasi pembuatan PMT) hingga
kelas PUS (Pijat Oksitoksin dan Penyuluhan KB).

“Kami menyasar 34 kader, 35 ibu hamil, 85 Bayi dan 364 Balita serta 378 PUS selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.

Selain Silvia, beberapa dosen juga telibat di antaranya Dewi Zolekhah, Ekawati, Ratna Prahesti, Budi Rahayu, Nendhi Wahyunia Utami, Alfie Ardiana Sari, Endah puji Astuti, dan Liberty Barokah. “Kami juga melibatkan 52 mahasiswa kebidanan semester enam,” katanya.

Selain untuk meningkatkan kegiatan posyandu dan menjadikan kader mandiri dan terampil, kegiatan sosial tersebut juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Seperti mendeteksi perkembangan bayi balita, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan keberhasilan program KB dan meningkatkan pengetahuan dan kesehatan ibu hamil serta kesiapan menghadapi persalinan.

“Kami ingin pelayanan posyandu lebih optimal dengan menerapkan teknik lima meja. Para kader juga kami dorong untuk aktif dalam kegiatan posyandu. Ini penting agar pekembangan ibu hamil dan pertumbuhan serta perkembangan balita bisa terpantau,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…