Ilustrasi Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo (Dok. Puskom PU) Ilustrasi Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo (Dok. Puskom PU)
Selasa, 13 Februari 2018 08:15 WIB Insetyonoto/JIBI/SOLOPOS Pendidikan Share :

PENDIDIKAN TINGGI
Aptisi Solo Tolak PTA

Aptisi Solo tolak PTA di Indonesia.

Solopos.com, SOLO—Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Komisariat II Solo menolak masuknya perguruan tinggi asing (PTA) ke Indonesia.

Sekretaris Aptisi Komisariat II Solo, Singgih Purnomo, mengatakan masuknya PTA dapat mematikan perguruan tinggi swasta (PTS) menengah ke bawah.

“Aptisi Komisariat II Solo menolak masuknya PTA, sama seperti sikap Aptisi pusat yang menolak masuknya PTA,” katanya saat dihubungi Solopos.com di Solo, Senin (12/2/2018).

Singgih mengatakan PTA kemungkinan tidak akan buka di Solo, melainkan di ibu kota provinsi seperti Jakarta dan Semarang. Kendati begitu, menurut dia, PTS di Solo akan terkena dampak karena calon mahasiswa menjadi sasaran PTS besar di Semarang yang kekurangan mahasiswa. (baca: PENDIDIKAN TINGGI: Perguruan Tinggi Asing di Indonesia akan Dibatasi)

PTS besar akan kekurangan mahasiswa sebab calon mahasiswa kelas menengah ke atas akan memilih mendaftar ke PTA yang lebih berkualitas.

“PTS besar dan menengah mencari calon mahasiswa yang selama ini menjadi pangsa PTS menengah ke bawah. [Kami] akan mati. Mestinya ini menjadi pertimbangan pemerintah,” kata dia.

Kebijakan pemerintah, dalam hal ini Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) tentang PTA, tidak melibatkan Aptisi.

“Padahal kebijakan tersebut akan membawa dampak bagi keberlangsungan PTS di Tanah Air, termasuk di Solo,” kata Singgih yang juga Ketua STMIK Duta Bangsa Solo ini.

Sementara itu, Ketua Aptisi Komisariat II Solo, Ali Mursyid Wahyu Mulyono, mengungkapkan penolakan terhadap PTA dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Aptisi di  Palembang, Sumatra Selatan, Kamis-Sabtu (8-10/2/2018) lalu.

“Kami belum tahu bentuk penolakan karena Aptisi pusat yang menyusun,” ujar dia.

Masuknya PTA di Indonesia, menurut Ali, agar dikaji lebih lanjut secara komprehensif dengan melibatkan Aptisi sebagai wadah PTS. Anggota Aptisi sekitar 4.000 PTS saat ini.

“Kami menilai belum saatnya PTA beroperasi di Indonesia karena dikhawatirkan bisa mengurangi eksistensi PTS yang sudah ada saat ini, terutama PTS kecil,” kata Ali.

Menurut Ali yang juga Rektor Universitas Veteran (Univet) Bangun Nusantara, Sukoharjo ini, kehadiran PTA tidak membawa dampak berarti bagi PTS besar. Namun, bagi PTS menengah dan kecil sangat berat.

“Pemerintah lebih baik meningkatkan kualitas PTS sekarang ini agar mutunya lebih baik,” jelas Ali.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…