Petugas DPU PR Solo memindah acara Dwarapala di lahan bekas Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari, Senin (12/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS) Petugas DPU PR Solo memindah acara Dwarapala di lahan bekas Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari, Senin (12/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS)
Selasa, 13 Februari 2018 00:00 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/SOLOPOS Solo Share :

PENATAAN SRIWEDARI
Pindah Arca Dwarapala di Sriwedari, Pemkot Solo Mesti Gelar Upacara Wilujengan

Pemkot Solo gelar upacara wilujengan untuk memindahkan arca Dwarapala.

Solopos.com, SOLO—Pemkot Solo menggelar upacara wilujengan demi memindahkan acara Dwarapala di lahan bekas Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari, Senin (12/2/2018) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Selamatan bernama wilujengan itu memang dimaksudkan untuk memperlancar proses pemindahan dua arca ke Museum Radya Pustaka. Pasalnya, beberapa waktu lalu, petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) Solo gagal memindahkan arca yang dipercaya sebagai arca laki-laki dan arca perempuan tersebut.

“Percaya boleh. Tidak juga boleh. Kemarin sudah dicoba pakai sling crane putus terus,” ujar Kabid Cipta Karya DPUPR Solo Taufan Basuki saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela prosesi pemindahan. (baca: Ahli Waris Siap Wakafkan Tanah untuk Masjid Sriwedari Solo)

Upacara ini dipimpin oleh tokoh spiritual dari Abdi Dalem Ngulama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Puja Sentanadipura.

Ia terlihat komat-kamit membacakan doa. Ia mengenakan busana Jawa berupa beskap putih lengkap dengan jarit dan blangkon. Ia ditemani dua orang abdi dalem keraton.

Di depannya tersaji nasi tumpeng lengkap dengan ingkung ayam, buah-buahan dan aneka kembang. Para aparatur sipil negara (ASN) dari Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Solo dan DPU PR Kota Solo turut serta di sana.

Setelah upacara Wilujengan selesai, para ASN menyantap hidangan yang ada. Selanjutnya, petugas DPUPR Solo, Banjir, mengemudikan ekskavator kecil mengeruk puing-puing bangunan bekas THR Sriwedari di sekitar arca laki-laki. Di sisi lain, arca perempuan sudah menggelimpang sejak beberapa hari lalu.

Anehnya, sekali dorongan dari ujung ekskavator, arca laki-laki ambruk. Petugas DPU PR lain lantas mengalungkan sebuah rantai ke badan arca. Rantai itu lalu dikaitkan ke ujung ekskavator yang lantas menarik perlahan arca menuju truk DPU PR yang sudah disiapkan.

Bukan perkara mudah memindahkan bangunan arca setinggi sekitar dua meter itu. Banjir harus berjuang keras sehingga arca tidak rusak. Setelah arca laki-laki berhasil diangkut ke truk, giliran arca perempuan yang prosesnya relatif lebih cepat.

K.R.T Puja Sentanadipura  mengatakan upacara itu dilakukan untuk memperlancar pemindahan dua arca untuk pembangunan Masjid Taman Sriwedari. Menurutnya, arca yang dipindah adalah barang antik sehingga biasanya memiliki kekuatan lain.

“Ini memindah yang menunggu arca. Memang semua dalam kekuasaan Tuhan. Tujuan utama minta keselamatan bisa lancar,” katanya.

Meski sudah berhasil mengangkutnya ke truk, pekerjaan itu belumlah usai. Mereka harus menempatkan arca di depan Museum Radya Pustaka. Proses pemasangan bukan perkara mudah. Banjir harus berkali-kali mengganti posisi ekskavator sehingga dapat menempatkan dua arca di bagian paling depan bangunan museum. Arca laki-laki ditempatkan di sisi timur. Sementara arca perempuan ditempatkan di sisi barat. Penempatan dua arca yang juga disebut Reca Abang itu selesai sekitar pukul 09.30 WIB.

Kepala Disbud Solo, Kinkin Sultanul Hakim, yang juga hadir dalam proses pemindahan arca mengatakan dua arca itu adalah arca tua. Namun, keduanya belum masuk objek penelitian.

“Kami sudah mengusahakan memindah dua arca ini sejak sebulan lalu, tapi selalu gagal. Kami menduga dua arca ini sebagai benda cagar budaya [BCB]. Tim akan segera mengkaji terkait sejarah dan lainnya. Semua benda berusia lebih dari 50 tahun patut diduga sebagai BCB. Kalau benar itu BCB, nanti akan ditetapkan melalui SK Wali Kota,” terangnya.

Kabid Pelestarian Cagar Budaya dan Permusiuman Disbud Solo, Mufti Raharjo, mengatakan dua arca itu dulunya mbegegek (berdiri tegak). Namun, setelah dilakukan selamatan wilujengan, hanya disenggol sedikit saja, arca bisa menggelimpang.

“Arca Dwarapala itu kalau menurut orang Jawa Timur disebut Reca Penthung. Dia tugasnya penjaga gerbang, penjaga serambi, penjaga teras, penjaga pintu depan. Makanya nanti di Radya Pustaka dimuliakan dengan ditempatkan di depan sebagai penjaga,” jelasnya.

Ia mengatakan sebelum berada di kawasan THR, dua arca itu dulunya berada di Bon Raja, dekat kandang gajah. Hal itu kemungkinan sudah terjadi sejak zaman Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SIKS) Paku Buwana (PB) X.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…