Sekretaris Desa Tridadi, Sleman, Johan Enri menunjukkan bendungan di Dusun Beran Kidul, Jumat (9/2/2018). (JIBI/Irwan A. Syambudi) Sekretaris Desa Tridadi, Sleman, Johan Enri menunjukkan bendungan di Dusun Beran Kidul, Jumat (9/2/2018). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Selasa, 13 Februari 2018 09:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Bendungan Ini Memberi Berkah bagi Peternak Ikan Tridadi

Pemerintah Desa (Pemdes) Tridadi, Kecamatan Sleman terus berupaya untuk mengoptimalkan potensi desa

Solopos.com, SLEMAN—Pemerintah Desa (Pemdes) Tridadi, Kecamatan Sleman terus berupaya untuk mengoptimalkan potensi desa melalui pembangunan infrastruktur. Terbaru, Pemdes Tridadi membangun sebuah bendungan untuk perairan pertanian dan perikanan.

Kepala Desa Tridadi, Kabul Mudji Basuki mengatakan potensi pertanian dan perikanan di Tridadi sangat tinggi. Saat ini terdapat puluhan kolam peternakan ikan dan 140 hektare lahan persawahan milik warga. Untuk itu menurutnya perlu ada infrastruktur pendukung yang dapat mengoptimalkan hasil pertanian dan perikanan.

“Pada 2017 kami membangun bendungan di Dusun Beran Kidul dengan menggunakan dana desa Rp177 juta. Saat ini bendungan sudah dapat dimanfaatkan untuk perairan sawah dan juga kolam ikan,” kata dia kepada Harianjogja.com, Jumat (9/2/2018).

Sebelumnya sungai yang selama ini dimanfaatkan untuk perikanan dan pertanian memiliki aliran yang kecil. Saat musim kemarau tidak jarang sejumlah peternak ikan dan petani kesulitan air. Kemudian setelah dibendung aliran air menuju kolam dan lahan persawahan menjadi lancar.

Tidak hanya itu, dengan adanya bendungan kini dampak erosi sungai dapat semakin dikurangi. “Mulanya memang agar mengurangi erosi karena sering ambrol. Kemudian dibangun bendungan untuk menahan erosi, sirkulasi airnya diatur supaya tidak menggerus tanah di sekitarnya. Air dialirkan ke kolam lalu dikembalikan ke sungai,” jelasnya.

Menurut Ketua Kelompok Perikanan Mina Jaya Desa Tridadi, Hariyanto mengakui adanya bendungan membawa dampak besar bagi perikanan. Sebelum adanya bendungan jumlah kolam yang ada hanya sekitar 30.

Namun setelah ada bendungan, kurang dari satu tahun kolam peternakan ikan seperti ika nila, gurame, dan bawal semakin bertambah. Kini jumlahnya total sudah ada 70 kolam ikan.

Semakin banyaknya kolam peternakan ikan ini disebabkan terjaminnnya ketersediaan air. Baik saat musim hujan ataupun kemarau, air untuk perairan kolam selalu mengalir setelah adanya bendungan.

“Yang jelas itu [bendungan] sangat bermanfaat untuk mengaliri kolam dan pertanian. Yang sebelumnya kerap kekurangan air sekarang sudah terpenuhi,” ujarnya.

Akibatnya perekonomian warga pun diakuinya semakin terangkat setelah adanya budidaya ikan. Bagi warga yang ikut kelompok peternakan ikan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat mengandalkan dari hasil penen ikan yang dapat dipanen setiap tiga bulan sekali.

“Lumayan kalau butuh [uang] ya sekarang tinggal ambil ikan di kolam lalu dijual,” kata Hariyanto.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…