Warga Dusun Kedungjati menyeberangkan anak sekolah menggunakan rakit bambu di Sungai Oya, Senin (12/2/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja) Warga Dusun Kedungjati menyeberangkan anak sekolah menggunakan rakit bambu di Sungai Oya, Senin (12/2/2018). (Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 13 Februari 2018 09:40 WIB Salsabila Annisa Azmi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Begini Jerih Payah Warga Pelosok Bantul Seberangi Sungai Oya

Warga swadaya bangun sarana prasarana untuk penyeberangan.

Solopos.com, BANTUL–Warga Dusun Wunut, Desa Sriharjo bergerak secara swadaya membangun sarana prasarana yang dibutuhkan untuk menyeberangi derasnya arus Sungai Oya, setelah jembatan gantung yang menghubungkan Desa Selopamioro dengan Desa Sriharjo putus diterjang banjir akibat Badai Cempaka November tahun lalu.

Pantauan Harianjogja.com, Senin (12/2/2018), warga secara swadaya membuat alat penarik perahu karet dari tali tambang. Perahu karet ini digunakan oleh warga termasuk anak sekolah setiap hari untuk menyeberangi sungai, menuju sekolah mereka.Bila tak menyeberangi sungai warga harus memutar dengan jarak hingga belasan kilometer menuju sekolah.

Selain menyediakan tali tambang, warga juga membangun tersering serta menumpuk karung goni berisi pasir untuk menahan bibir sungai tempat tali tambang tertambat agar tidak longsor.

Kepala Dusun Wunut Sugianto mengatakan pengkajian soal kondisi jembtan putus sudah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), namun selama ini pembangunan bronjong untuk menahan bibir sungai longsor hanya di satu sisi saja. Pemasangan bronjong hanya di tebing sungai Desa Sriharjo membuat tebing sungai Desa Selopamioro terkena efek samping longsor lebih parah. “Arus yang menabrak bronjong di sisi kanan langsung mengarah ke selatan, kemudian ke utara menabrak tebing sisi kiri, jadi sisi kiri hancur tebingnya,” kata Sugianto, Senin (12/2/2018).

Sementara itu warga RT 02 Dusun Jetis, Desa Selopamioro, Subiyanto, mengatakan selain berharap pembangunan jembatan gantung Wunut dipercepat, warga juga ingin pembangunan bronjong dibuat lurus dan panjang. “Selain itu sisi kanan dan kiri harus dipasang,” kata Subiyanto. Terkait jembatan gantung, Subiyanto mengatakan, nantinya jembatan akan direlokasi ke sisi Timur Dusun Kedungmiri di dekat Puskesmas Tanjung.

Dikonfirmasi secara terpisah Kepala BBWSSO Tri Bayu Aji mengatakan pembangunan bronjong Sungai Oya adalah wewenang semua pihak. BBWSSO melakukan pengkajian, sementara pembangunan dilakukan oleh dinas terkait. Untuk saat ini, tebing Sungai Oya lebih pas dibangun bronjong.

Mengenai pembangunan bronjong, Tri mengatakan bentuk bronjong yang tidak lurus justru menggambarkan keberhasilan. “Banyak yang bilang kalau bronjong baiknya dibangun lurus. Padahal kalau bronjong bengkok mengikuti sungai, itu yang bagus,” kata Tri.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…