Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto (ke empat dari kanan), memantau psikotes calon pegawai BLUD RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen di SMAN 1 Sragen, Minggu (11/2/2018) siang. (Istimewa/Dokumen DPRD Sragen) Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto (ke empat dari kanan), memantau psikotes calon pegawai BLUD RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen di SMAN 1 Sragen, Minggu (11/2/2018) siang. (Istimewa/Dokumen DPRD Sragen)
Selasa, 13 Februari 2018 06:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

9 Lowongan Dokter Spesialis RSUD Sragen Tak Ada Peminat

Sembilan lowongan dokter spesialis yang dibuka saat perekrutan pegawai RSUD Sragen tak ada yang meminati.

Solopos.com, SRAGEN — Sekitar 374 peserta seleksi calon pegawai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen mengikuti psikotes di SMAN 1 Sragen, Minggu (11/2/2018). Dari jumlah itu akan diambil 130 peserta terbaik untuk menempati 130 lowongan yang dibuka.

Sebenarnya, manajemen RSUD membuka 139 lowongan. Dari jumlah itu ada sembilan lowongan dokter spesialis yang hingga batas akhir waktu pendaftaran tak ada yang melamar.

“Jumlah peserta psikotes sebenarnya 374 orang. Tapi ada beberapa yang tidak datang. Saya tidak hafal berapa orang. Bagi yang tak datang dipastikan gugur atau tak bisa ikut tahap berikutnya,” ujar Direktur BLUD RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, Didik Hariyanto, saat diwawancarai wartawan di Kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Senin (12/2/2018) siang.

Didik mengatakan hasil psikotes akan diumumkan sekitar 10 hari lagi. Bagi peserta yang lulus psikotes akan mengikuti tahap berikutnya berupa wawancara oleh tim UNS dan RSUD. “Tes wawancara sifatnya sudah penguatan. Artinya saat wawancara dibuktikan dengan persyaratan lengkap, berarti sudah diterima. Jadi nanti berkas-berkas peserta akan dicocokkan,” kata dia.

Baca:

Menurut Didik, dari 374 peserta psikotes akan diambil 130 peserta untuk lanjut ke tes wawancara. Soal lowongan dokter spesialis yang tak ada peminatnya, Didik membantah pendapat yang menyatakan lowongan dokter spesialis karena tidak ada peminat karena honornya kecil.

Menurut dia, honor dokter spesialis pegawai BLUD memang sesuai UMK. Di luar itu dokter spesialis bisa mendapatkan tambahan pendapatan dari jumlah pasien yang ditangani. “Jangan diartikan gaji dokter BLUD kecil. Ada yang melebihi pendapatan dokter ASN,” imbuh dia.

Didik menilai tidak adanya pendaftar pada lowongan dokter spesialis karena minimnya kelulusan dokter spesialis. Dia mengaku sudah menghadap Bupati Sragen terkait kekosongan lowongan itu.

“Mungkin ada cara tersendiri dari Ibu Bupati. Sebenarnya kami sudah punya [dokter spesialis]. Pembukaan lowongan ini untuk tambahan agar pelayanan bisa semakin optimal,” tegas dia.

Di sisi lain, penyelenggaraan psikotes pada Minggu di SMAN 1 Sragen menarik perhatian Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto dan Wakil Ketua DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto. Para wakil rakyat itu memantau langsung jalannya tes untuk memastikan tidak ada kendala. Pemantauan itu juga terkait informasi adanya pihak-pihak yang bermain dalam perekrutan itu.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…