Wisata Kendal Para wisatawan tengah merasakan sensasi river tubing di sungai yang terletak di Desa Blimbing, Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Sabtu (10/2/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Senin, 12 Februari 2018 12:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

WISATA KENDAL
Rawat Sungai, Warga Desa di Boja Ini Buat Wahan River Tubing

Wisata salah satunya menampilkan petualangan menyusuri sungai di Desa Blimbing, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.

Solopos.com, SEMARANG – “Air adalah sumber kehidupan.” Kata-kata itu rupanya benar-benar diterapkan warga Desa Blimbing, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal dalam merawat sungai yang terbentang di wilayahnya.

Tak hanya menjadikan sungai sebagai sarana kegiatan sehari-hari, warga di Desa Blimbing juga memanfaatkan sungai di wilayahnya itu sebagai tujuan wisata.

Sungai dengan panjang sekitar 1000 meter dan lebar tiga meter itu dimanfaatkan warga Desa Blimbing sebagai wahana wisata river tubing.

Alhasil, setiap akhir pekan kawasan Desa Blimbing menjadi ramai dikunjungi wisatawan. Tak hanya wisatawan dari Kendal, beberapa pelancong asal Semarang pun datang ke desa itu guna merasakan sensasi meluncur  menyusuri sungai dengan menggunakan ban bekas.

Kepala Desa Blimbing, Sutrisno, menyebutkan fenomena pelancong yang datang ke desanya itu sudah terjadi sejak lima pekan terakhir. Tepatnya, semenjak warganya berkomitmen menjaga kebersihan sungai agar bisa dijadikan potensi wisata.

“Sejak saat itu tak ada lagi warga yang membuang sampah di sungai. Warga juga enggak ada yang buang air besar [BAB] di sungai. Alhasil, sungainya bersih dan bisa dimanfaatkan sebagai wahana wisata river tubing,” tutur Sutrisno saat dijumpai Semarangpos.com di rumahnya, Sabtu (10/2/2018).

Ga perlu ke waterboom. Kali pun jadi?

Sebuah kiriman dibagikan oleh Imam Yuda Saputra (@imamyudasaputra) pada 10 Peb 2018 jam 1:42 PST

Ucapan Supriyono itu memang bukan isapan jempol. Pantauan Solopos.com, sungai yang membentang di tengah Desa Blimbing itu memang tampah bersih.

Tak ada aktivitas warga, seperti mencuci baju, peralatan dapur, bahkan BAB di sungai itu. Sebagai gantinya, sungai itu ramai dikunjungi warga yang berenang maupun merasakan sensasi river tubing.

Seorang pengunjung asal Semarang, Anindya Putri, merasakan keseruan saat bermain tubing di sungai yang juga menjadi saluran irigasi pertanian warga Desa Blimbing itu.

“Arus sungainya cukup deras, river tubing-nya jadi seru. Tapi juga cukup aman karena sungainya tidak terlalu dalam dan juga ada penghalang di bagian finisnya,” ujar perempuan yang masih berstatus mahasiswi Universitas Semarang (Usm) itu.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung ini pun seakan menjadi keuntungan tersendiri bagi warga desa. Warga menjadi memiliki penghasilan tambahan dari menyewakan kamar mandi untuk wisatawan membersihkan diri seusai bermain di kali.

Selain itu, banyak warga yang juga memanfaatkan keramaian di desanya itu dengan menggelar dagangan berupa makanan di pinggir-pinggir kali.

“Dari data yang saya peroleh setidaknya ada pemasukan tambahan sekitar Rp6 juta per hari setiap akhir pekan dari kunjungan wisatawan di desa ini. Itu belum termasuk uang yang diterima warga dari menyewakan tempat bilas atau lahan parkir,” ujar Sutrisno.

Penasaran ingin mencoba sensasi river tubing di Desa Blimbing? Untuk datang ke desa ini cukup mudah. Jika Anda dari Semarang bisa melewati Jl. Walisongo, Ngaliyan, arah ke Kecamatan Mijen. Sesampainya di Alun-alun Mijen, anda bisa mengambil rute ke arah Pasar Boja. Sesampainya di Pasar Boja, Anda bisa langsung menuju ke arah Desa Blimbing.

Untuk merasakan sensasi river tubing di Desa Blimbing, biayanya juga cukup marah. Pengunjung yang datang cukup membayar tiket masuk Rp5.000. Harga itu sudah termasuk biaya menyewa ban. Untuk mendapatkan baju pelampung, pengunjung dikenai biaya tambahan Rp2.000.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…