Pembeli memilih pernak-pernik khas tahun baru Imlek yang dijual di salah satu toko kawasan Pecinan Kota Semarang, Jateng, Kamis (8/2/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan) Pembeli memilih pernak-pernik khas tahun baru Imlek yang dijual di salah satu toko kawasan Pecinan Kota Semarang, Jateng, Kamis (8/2/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)
Senin, 12 Februari 2018 20:10 WIB JIBI/Solopos/Newswire Issue Share :

Tak Ada Ornamen Anjing di Perayaan Imlek di Malaysia, Ini Alasannya...

Tidak ada ornamen anjing di perayaan Imlek di Malaysia.

Solopos.com, SOLO – Perayaan Tahun Baru China atau Imlek dirayakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali di Malaysia. Berbeda dari perayaan kebanyakan yang memasang berbagai ornamen Anjing, di Malaysia justru sepakat tidak memasang ornamen tersebut.

Dilansir dari laman Liputan6 dari Nikkei.com, Senin (12/2/2018), tidak ada larangan merayakan Tahun Baru Imlek di Malaysia, yang jatuh di awal tahun anjing pada penanggalan China.

Namun, mengingat kehawatiran menyinggung umat Muslim yang menjadi warga mayoritas di Negeri Jiran, penempatan ornamen bertema hewan anjing disepakati untuk ditiadakan.

Sejatinya pemerintah Malaysia tidak pernah mengatakan secara langsung larangan untuk menempatkan ornamen hewan anjing –dan juga babi– di ranah komersial. Namun, banyaknya aturan dan kebijakan pemerintah yang terinspirasi oleh hukum Islam, membuat asosiasi pengelola retail memilih “bermain aman” dalam perayaan Tahun Baru Imlek nanti.

Sebagaimana diketahui, anjing dan babi merupakan dua hewan yang dianggap najis oleh umat Muslim. Keberadaan kedua hewan itu sebenarnya tidak dipermasalahkan, kecuali interaksinya dengan warga Muslim.

Untuk mengakalinya, banyak pengelola retail mengganti representasi hewan anjing dengan karakter dalam aksara China. Subtitusi tersebut dicetak di atas beberapa produk garmen, alat tulis, dan cinderamata.

Selain melalui aksara China, semarak Tahun Baru Imlek juga dimeriahkan oleh ornamen aneka bunga musim semi, dekorasi bertema Tionghoa, dan nuansa merah menyala di banyak kawasan komersial di Malaysia.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…