Sejumlah jemaat membersihkan Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Senin (12/02/2018). (Harian Jogja/Desi Suryanto) Sejumlah jemaat membersihkan Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Senin (12/02/2018). (Harian Jogja/Desi Suryanto)
Senin, 12 Februari 2018 18:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Setelah Gereja Diserang, Ormas di Jogja Bakal Diundang untuk Dialog

Pemda DIY akan menggelar dialog dengan kalangan ormas.

Solopos.com, JOGJA–Pemerintah Daerah (Pemda) DIY akan segera menggelar pertemuan dengan organisasi masyarakat (ormas) untuk mencari formula terbaik demi mencegah terulangnya kembali kasus intoleransi. Adapun legislatif menilai, eksekutif perlu melakukan kontrol lingkungan hingga tingkat paling bawah.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan akan menggelar dialog dengan ormas-ormas pada Rabu (14/2/2018) mendatang. Ia mengaku saat ini materi dialog sedang dipersiapkan. Setelah materi siap, baru dialog dilakukan.

Baca juga : Penyerangan Gereja Lidwina, Din Syamsuddin Duga Ada yang Main di Belakang

Seperti diketahui, pada Minggu (11/2/2018) lalu, DIY dan Indonesia dikejutkan oleh serangan membabi buta seorang pria bersenjata pedang di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman. Akibatnya satu orang pastur, tiga orang jemaat gereja dan satu polisi terluka. Tiga korban, yakni Budijono, Romo Prier dan Yohanes Triyanto hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Sementara satu korban lainnya, Martinus Parmadi Subiantara sudah diperbolehkan pulang tak lama seusai kejadian.

Terkait peristiwa tersebut, Komisi A DPRD DIY menyebut Pemda DIY perlu melakukan deteksi dini di tingkat desa dengan melakukan konsolidasi dengan pemimpin setempat, babinsa, babhinkamtibmas dan jagawarga.

Baca juga : Penyerang Gereja St Lidwina Pernah Aktif di Poso & Berencana ke Suriah

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto mengungkapkan, berbagai pihak harus melakukan kontrol terhadap lingkungan sekitar. Saat ada sesuatu yang mencurigakan, diharapkan masyarakat bisa segera melaporkannya ke pihak berwenang.

“Aksi ini biadab dan keji. Pelakunya pantas dihukum mati. Karena itu masalah ini harus segera diselesaikan dan ada tindakan pencegahan. Kejadian yang sama tidak boleh terulang. Ini yang terakhir kali,” ujar Eko di Gedung DPRD DIY seusai menggelar rapat kerja dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY.

Eko juga menyatakan, Pemda DIY dan DPRD DIY sudah sepakat menggelar Apel Jogja Damai untuk membangkitkan semangat melawan teror. Kegiatan ini akan melibatkan ormas, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Acara akan digelar secepatnya dan hingga kini belum ada tanggal pasti.

Baca juga : PENYERANGAN GEREJA : Jangan Sampai Merembet ke Isu Agama

Menurutnya, format Apel Jogja Damai tidak hanya diisi oleh kegiatan baris berbaris, tapi juga ada aksi kebudayaan. Kegiatan ini diharapkan mampu membangkitkan kembali masyarakat dari ketakutan. “Karena itu bersama-sama dengan rakyat kami nyatakan Jogja ora wedi.”

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…