Tumpukan sampah di TPS yang meluber hingga jalan dukuh di Dukuh Bulu, Desa Jaten, Jaten, Karanganyar, Senin (12/2/2018). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos) Tumpukan sampah di TPS yang meluber hingga jalan dukuh di Dukuh Bulu, Desa Jaten, Jaten, Karanganyar, Senin (12/2/2018). (Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos)
Senin, 12 Februari 2018 16:35 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Sampah TPS Jaten Karanganyar Meluber ke Jalan Bikin Warga Khawatir

Warga Jaten, Karanganyar, mengeluhkan sampah yang kurang tertangani di wilayah mereka.

Solopos.com, KARANGANYAR — Warga Jaten di sekitar tempat pembuangan sampah (TPS) Dukuh Bulu, Desa/Kecamatan Jaten, Karanganyar, mengeluhkan sampah yang berserakan hingga meluber ke jalan dukuh karena sudah tiga bulan menumpuk.

Warga khawatir jika dibiarkan tumpukan sampah itu bisa menjadi sumber berbagai macam penyakit. Apalagi tumpukan sampah itu cukup dekat dengan kompleks perumahan.

Pantauan Solopos.com, TPS itu berada di sekitar area persawahan diapit Perumahan Citra Estetika di sebelah utara dan Perumahan Veteran di sebelah selatan. Sepintas, TPS di Dukuh Bulu itu seperti memanfaatkan ruang di antara dua petak sawah.

Padahal, TPS itu hanya sebatas pada bangunan permanen setengah terbuka di tepi sawah. Tidak jauh dari bangunan itu terdapat alat berat yang diduga untuk mengeruk sampah dan kontainer yang sudah rusak. Menurut sejumlah warga sekitar, alat berat berwarna oranye itu sudah lama tidak digunakan.

Sampah tidak ditampung di dalam TPS melainkan meluber ke jalan dukuh di depan TPS. Tidak jauh dari TPS terdapat permakaman umum desa. Jarak TPS ke deretan makam 300-500 meter. Sampah berserakan sepanjang jalan dari sekitar TPS hingga dekat makam.

Bahkan, sampah nangkring di sejumlah kijing di tepi jalan. Menurut informasi, sampah sudah menumpuk selama tiga bulan terakhir.

Warga yang tinggal di Perumahan Veteran terpaksa memasang palang di dekat pintu masuk kompleks. Palang terbuat dari bambu dan spanduk bertulis “Hormatilah masyarakat, makam, dan jalan ini. Kami bukan tempat sampah. Jagalah kebersihan lingkungan kami.”

“Hla ini kalau enggak ditutup, bisa meluber sampai jalan masuk kampung. Makanya kami tutup supaya orang enggak buang sampah lewat sini. Akhirnya malah geser buang sampah lewat dekat TPS [dekat Perumahan Citra Estetika],” kata warga Dukuh Bulu, RT 004/RW 017, Wahyu Dwi Purnomo, saat ditemui wartawan di sekitar makam, Senin (12/2/2018).

Dia mengaku sudah melapor ke pengurus RT dan RW. Bahkan dia mengklaim Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar sudah mengetahui persoalan itu. “Harapan kami, pemkab segera membantu kami. Kami hanya ingin sampah dibersihkan. Kami sudah iuran sampah dan dikumpulkan saat rapat setiap bulan. Tapi kok masih belum beres sampahnya,” ujar dia.

Warga lain yang tinggal di sekitar TPS, Suwarni, menuturkan efek sampah tersebut adalah bau menyengat saat musim penghujan maupun kemarau. Dia khawatir kondisi lingkungan sekitar penuh sampah berakibat pada kesehatan cucunya.

“Baunya menyengat kayak bau bangkai. Cucu saya kasihan. Saya jadi terganggu kalau mau ziarah ke makam orang tua di situ. Duduk agak lama itu, banyak lalat mengerubuti,” ungkap dia.

Pantauan Solopos.com, setiap rumah warga terdapat tong sampah. Petugas kebersihan yang ditunjuk warga akan keliling mengambil sampah rumah tangga dan dibuang ke TPS. Tidak ada pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar, Edy Yusworo, menyampaikan pengelolaan sampah di Jaten melibatkan badan keswadayaan masyarakat (BKM). Koordinator BKM Handono Mulyo, Barkah Istiawan, menyampaikan tiga bulan lalu sampah di TPS itu sudah dibersihkan.

Biaya pembersihan seluruh sampah di TPS Rp7 juta. Selang 2-3 pekan kemudian, sampah kembali berserakan di jalan.

“Yang buang sampah di situ bukan hanya orang Jaten. Orang lewat tiba-tiba lempar sampah. Kalau Jaten saja itu ada 14 RW ditambah Pasar Desa Jaten. Sebetulnya ada satu truk yang mengambil sampah di TPS setiap hari,” ujar Barkah saat ditemui wartawan di rumahnya.

Tetapi, jumlah sampah yang masuk ke TPS lebih banyak apabila dibandingkan dengan sampah yang diangkut truk ke TPA. Dia menawarkan solusi pengelolaan sampah melibatkan setiap rumah tangga. Setiap keluarga memilah sampah organik dengan anorganik.

“Faktanya 70% sampah itu anorganik seperti plastik, kardus, dan lain-lain. Sisanya organik. Saya sudah sosialisasi ke RW setiap rapat. Tetapi yang jalan belum ada sebagian. Di Perumahan Josroyo [tempat tinggal dia] hanya tujuh RT dari 14 RT sudah memilah sampah,” jelas dia.

Dia mengklaim ibu-ibu PKK dari tujuh RT di Perumahan Josroyo sudah memanfaatkan hasil penjualan sampah nonorganik untuk membeli seragam, piknik, dan lain-lain. “Sampah di TPS akan kembali menggunung lagi meskipun sudah dibereskan. Solusinya pengolahan sampah sejak dari rumah tangga. BKM bantu menyelesaikan masalah. Sampah nonorganik dijual ke kami. Kalau itu jalan beres. Sampah yang enggak bisa diolah itu hanya popok bayi dan pembalut wanita.”

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…