Sejumlah jemaat membersihkan Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Senin (12/02/2018). (Harian Jogja/Desi Suryanto) Sejumlah jemaat membersihkan Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Senin (12/02/2018). (Harian Jogja/Desi Suryanto)
Senin, 12 Februari 2018 15:31 WIB David Eka/JIBI/Bisnis Hukum Share :

Penyerangan Gereja St Lidwina, Menag Minta Polisi Tak Cuma Bilang Orang Gila

Menag meminta polisi tak asal menyebut pelaku penyerangan Gereja St. Lidwina Sleman sebagai orang gila/

Solopos.com, JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengharapkan aparat penegak hukum lebih serius dan dapat mengungkap motif penyerangan Gereja Santa Lidwina.

Lukman mengatakan jangan sampai umat agam terpicu kemudian berpotensi menduga-duga bahwa aksi kekerasan di rumah ibadah bagian dari rekayasa. Menurutnya, saat ini umat diminta terlebih dahulum memberikan kepercayaan penuh kepada penegak hukum untuk menemukan motif tidak kekerasan di rumah ibadah.

“Tidak cukup hanya memberikan informasi bahwa ini [tindak kekerasan] dilakukan oleh orang yang hilang ingatan, tidak waras dan gila,” tuturnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (12/2/18).

Menag juga menyebut peristiwa tindak kekerasan yang terjadi di sejumlah pemuka agama, tidak dapat dibenarkan atas alasan apapun. Tindakan ini, lanjut Lukman, tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun.

Pada Minggu (11/2/2018) sekitar pukul 7.45 WIB, Gereja Katolik St. Lidwina Stasi Bedog, Kabupaten Sleman, DIY, diserang seorang pria bersenjata yang kemudian diketahui bernama Suliyono, 22, warga Banyuwani, Jawa Timur.

Adapun korban dari kejadian tersebut berjumlah tiga orang antara lain Budijono, Romo Prier, dan Aiptu Munir. Ketiga korban mengalami luka bacokdi beberapa bagian tubuhnya akibat senjata tajam.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama. Untuk itu, Jokowi menekankan pemerintah tidak memberi tempat bagi pihak-pihak yang menyebarkan intoleransi di Indonesia karena masyarakat sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di tengah keragaman.

“Tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mampu bertoleransi di negara kita, apalagi dengan kekerasan. Saya minta aparat dan negara menjamin penegakan konstitusi,” kata Jokowi.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…