Sampah terlihat bertumpuk di kawasan Titik Nol, Malioboro, Jogja pada Selasa (17/10/2017) Sampah terlihat bertumpuk di kawasan Titik Nol, Malioboro, Jogja pada Selasa (17/10/2017)
Senin, 12 Februari 2018 20:20 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Musim Hujan, Retribusi Sampah Tambah Banyak

Retribusi sampah yang harus dikeluarkan Pemkot Jogja setiap bulannya meningkat 15% selama musim penghujan

Solopos.com, JOGJA -Retribusi sampah yang harus dikeluarkan Pemkot Jogja setiap bulannya meningkat 15% selama musim penghujan. Pemerintah baru memiliki satu kendaraan yang bisa mengeringkan sampah basah akibat hujan.

Pemkot harus mengeluarkan dana sebesar Rp221juta untuk retribusi sampah pada Oktober lalu. Jumlah ini lebih tinggi dari tagihan pada Juli hingga September yang hanya berkisar Rp183 juta. Tren kenaikan ini terus berlangsung hingga Januari dengan retribusi yang nyaris sebesar Rp222 juta.

“Trennya memang naik retribusinya, musim hujan begini penimbangan lebih berat akibatnya bayar lebih mahal,” kata Ahmad Haryoko, Kepala Seksi Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja kepada Solopos.com, Senin (12/2/2018).

Pasalnya, sampah yang dalam kondisi basah terguyur air hujan langsung diangkut petugas dan ditimbang. Hasil penimbangan inilah yang kemudian menjadi acuan retribusi yang harus dibayarkan.

Untuk setiap ton, retribusi yang harus dibayarkan ialah sebesar Rp24.383. Memproses sampah yang ada agar menjadi kering juga tidak mudah dilakukan.

Salah satu yang paling efisien adalah dengan kendaraan pengangkut sampah khusus yang bisa memadatkan sampah basah. Kendataan yang disebut sebagai compactor ini bisa memeras air dari sampah basah hingga 200 liter.

Sayangnya, DLH Kota Jogja baru memiliki satu unit kendaraan jenis ini sehingga operasionalnya pun terbatas. Sedangkan 28 unit kendaraan pengakut sampah lainnya masih berupa truk dam biasa.

Menurutnya, ini memang menjadi pola tahunan setiap kali masuk musim penghujan. Namun untuk tahun ini memang relatif lebih panjang sehingga biaya yang harus dikeluarkan juga lebih besar.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…