Worro H Astuti Worro H Astuti
Senin, 12 Februari 2018 23:40 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Mengenal Worro H Astuti, Sosok di Balik Rahasia Cantik Putri Kraton Jogja

Tularkan tradisi spa dan lestarikan pijat Jawa Kuno.

Solopos.com, JOGJA–Gelar sebagai Master Spa tak begitu saja diperoleh Worro H. Astuti. Direktur Research and Development Nurkadhatyan The Ritual Spa ini memperoleh keahlian memijat dan memahami aneka rerempahan alam untuk perawatan tubuh berawal tradisi yang diajarkan leluhur dan orang tuanya. Tradisi tak cukup hanya diuri-uri (dilestarikan), tetapi juga dibagi agar dapat terus dipertahankan demikian prinsip yang dikukuhkan Worro.

Perempuan kelahiran Magelang ini merupakan konseptor spa dibalik bisnis spa yang dijalan lima putri Sultan HB X. Jauh sebelum Nurkadhatyan ini beridiri, Worro merupakan sosok dibalik rahasia cantik para putri raja Jawa ini.

Gelaran pernikahan putri Sultan, tak pernah lepas dari keahlian meracik ramuan kecantikan yang diolah Worro. Dalam perbincangan santai di Gandhok Ambarrukmo, lokasi Nurkadhatyan The Ritual Spa ini berada, Worro mengisahkan awal kecintaannya pada bidang Ngadi Salira, yakni mengabdi pada bidang perawatan tubuh.

“Perawatan tubuh itu ada dua, yakni perawatan dari dalam dan dari luar. Kalau dari dalam dengan rerempahan seperti jamu, sedangkan dari luar dengan lulur mangir, parem, boreh, pilis dan lain,” ujar Worro belum lama ini.

Dunia kecantikan tradisional sudah dilakoni ibu dua anak ini selama puluhan tahun. Pernah bekerja di salah satu perusahaan kosmetik ternama, kiprahnya sebagai Master of Spa tak terhenti meski masa pensiunnya tiba.

Worro masih mengabdikan dirinya pada dunia perawatan tubuh saat dipinang oleh keluarga Kraton Jogja untuk mengelola Nurkadhatyan The Ritual Spa. Fokus dalam nguri-uri kabudayan, dalam hal ini budaya spa tradisonal Jawa menjadi prinsip yang dipegang olehnya.

Kecintaan Worro pada bidang ini, sudah tertanam sejak masih belia. Kakek dan nenek yang masih keturunan Raja Jawa, menurunkan tradisi meramu dan meracik ramuan pengobatan Jawa serta teknik pijat Jawa Kuno. Keahlian itu terus diasahnya secara otodidak dengan memadukan tradisi, ilmu medis tentang anatomi tubuh, serta teknik perawatan tubuh putri keraton.

“Itu juga yang saya tekankan pada anak didik saya, para terapis yang ada di Nurkadhatyan ini. Saya selalu menekankan pada mereka untuk meresapi teknik-teknik tersebut ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karena pada prinsipnya memijat atau Lenging Bandawasa, juga membutuhkan teknik pijat dengan menyalurkan energi,” papar nenek lima cucu ini.

Di tengah pesatnya pertumbuhan bisnis spa di Indonesia, Worro berharap ritual spa nusantara dapat terus dilestarikan. Budaya yang melekat pada Indonesia, ditambah dengan potensi alam yang melimpah mestinya dapat dioptimalkan dan bersinergi dengan kekayaan alam yang ada.

Hal ini juga yang nantinya akan dibawa Worro ke Paris, kota mode dan kecantikan dunia ini mengundangnya untuk mempresentasikan spa tradisional Kraton kepada dunia. Dalam ajang itu, bukan hanya spa Jawa kuno yang akan diperkenalkan, tetapi juga spa dari Pulau Bali sebagai upaya untuk memperkenalkan spa Indonesia ke seluruh dunia.

“Saya berharap, dunia bisa melihat teknik perawatan tubuh tradisional yang masih dilestarikan di Jogja ini, sehingga dapat menjadi inspirasi daerah lain untuk melestarikan potensi alam Indonesia di bidang ini,” ungkap Worro.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…