Penampilan Trio Lestari di ball room Alilla hotel Solo, Sabtu (10/2/2018) malam. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/SOLOPOS) Penampilan Trio Lestari di ball room Alilla hotel Solo, Sabtu (10/2/2018) malam. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/SOLOPOS)
Senin, 12 Februari 2018 08:15 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/SOLOPOS Nada Share :

KONSER MUSIK
Puji-Puji Trio Lestari untuk Kota Bengawan

Trio Lestari memuji Kota Solo dalam konser.

Solopos.com, SOLO—Panggung konser Back In Black featuring Trio Lestari di Grand Ballroom Alila Solo, Sabtu (10/2/2018) malam, menjadi ajang pembuktian. Kapasitas musisi tak melulu ditakar dari kualitasnya saat tampil menghibur penonton. Lebih dari itu; kolektif yang digawangi Glenn Fredly, Tompi, serta Sandhy Sondoro punya tanggung jawab moral mengajak Warga Lestari, julukan untuk penggemar mereka, agar tak lupa mengapresiasi musik karya anak bangsa.

Euforia ratusan penonton meletup tatkala Glenn mengomando band pengiring, Tompi, dan Sandhy dengan lagu pembukaan Zamrud Khatulistiwa yang dipopulerkan Chrisye. Tempo musik yang cepat membakar semangat pertunjukan dengan konsep penonton duduk di kursi itu. (baca: Asyik, Trio Lestari, Kunto Aji, dan Naif konser di Solo)

Seolah enggan menyia-nyiakan waktu, konser bergulir dengan lagu Malam Minggu. Penonton pun sejenak diajak bernostalgia dengan cara komikal menyanyi Sandhy, menirukan seniman multitalenta almarhum Bernyamin Sueb yang mempopulerkan lagu tersebut.

“Solo itu istimewa. Kota yang kami sambangi waktu awal terbentuknya Trio Lestari,” ujar Tompi membangun percakapan dengan audiensi.

“Tapi ada perbedaannya,” sambung dia membuat penonton dan kedua sohibnya di panggung penasaran.

“Perbedaannya, Sandhy dulu masih ada keluarga, sekarang enggak. Dulu ada yang dicintai, sekarang mencintai diri sendiri,” ujar Tompi merundung salah satu sobatnya disambut gelak tawa penonton. “Kalau Glenn itu konsisten. Dari dulu enggak ada yang dicintai,” kata dia lagi. Kali ini penonton makin tergelak-gelak.

Mendengar sindiran temannya, Glenn tak kehabisan akal. Ia menceritakan pengalamannya bertandang ke Kota Bengawan.

“Tadi gue makan, dekat perempatan gitu. Ada tengkleng. Tompi makannya, Ya Allah. Banyak banget. Kasihan. Kayak orang lama enggak makan,” balasnya.

Sebelum Trio Lestari kembali memamerkan kualitas vokal prima saat membawakan lagu lawas medley NurlelaBengawan Solo, Glenn memberikan penjelasan.

“Lagu ini direkam di Lokananta Solo,” katanya.

“Solo punya begitu banyak cerita. Sejarah musik Indonesia centre-nya ada di sini. Enggak tahu orang Solo nyadar apa enggak. Lu pernah liat belum?” tanya Glenn melirik Tompi. Dengan ekspresi datar, dokter yang juga penghobi fotografi itu menjawab.

“Di foto doang,” jawabnya.

Banyaknya banyolan dan obrolan dengan penonton dari penampil utama di panggung konser Back In Black featuring Trio Lestari malam itu membuat pertunjukan selama 2,5 jam tanpa jeda tersebut jauh dari kata membosankan.

Tak hanya tampil bertiga; Glenn, Tompi, dan Sandhy masing-masing menunjukkan kualitasnya tampil sebagai solois dengan lagu andalan mereka. Masing-masing kejatah dua lagu. Bila sebelumnya Tompi dan Sandhy tampil lempeng tanpa gimmick, Glenn yang masih berhutang satu lagu selepas membawakan Cinta dan Rahasia membuat satu kejutan.

Ia tiba-tiba mengajak penonton dan rekan-rekannya di panggung untuk menyaksikan sebuah video singkat yang memuat gambar legenda hidup keroncong, Waldjinah.

“Hari ini, yang paling penting itu belajar mengapresiasi karya anak bangsa,” kata Glenn.

Dari balik panggung yang gelap, salah satu perwakilan Retroactive Communication selaku promotor sekaligus penyelenggara konser mendorong kursi roda. Begitu tiba di depan panggung, terlihat Waldjinah semringah disambut Trio Lestari.

“Dulu saya rekaman pertama di Lokananta. Umurnya 12 tahun. Tadi adik-adik bilang Lokananta. Ibu jadi deg-degan. Senang rasanya,” tutur Waldjinah.

Senyumnya semakin merekah saat mendapat kenang-kenangan vandel berbahan akrilik dari ketiganya. Waldjinah pun menghadiahi mereka cuilan lagu Walang Kekek yang ia bawakan dengan kenes.

Selepas memberikan kejutan bareng teman-temannya, Glenn membayar lunas hutang menyanyi satu lagu dengan membawakan Malaikat Juga Tahu. Spontan, ia mengganti bait penutup lagu bertempo kalem itu dengan lirik persembahan buat Waldjinah. “Malaikat juga tahu… Waldjinah yang jadi… Juaranya…

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…