Ilustrasi kanker payudara (huffingtonpost.co.uk) Ilustrasi kanker payudara (huffingtonpost.co.uk)
Senin, 12 Februari 2018 02:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KAMPUS DI SEMARANG
Kesadaran Deteksi Dini Rendah, Talkshow Kanker Payudara Digelar di Undip

Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menjadi ajang talkshow kanker payudara yang digelar Dharma Wanita setempat.

Solopos.com, SEMARANG — Dokter pakar kanker dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta Walta Gautama mengakui kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker kini masih rendah. Bahkan, 70%-80% peserta pelatihan mengenai kanker tidak mempraktikkan pengetahuan yang didapatkan terkait deteksi dini atau konfirmasi kondisi kesehatan mereka.

“Banyak orang yang sudah mengikuti pelatihan mengenai kanker, tetapi, tidak semua kemudian mempraktikkan apa yang didapat,” katanya saat tampil dalam Talkshow Deteksi Dini Kanker Payudara di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/2/2018).

Talkshow yang berlangsung di Kampus Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu merupakan kerja sama Dharma Wanita Persatuan Undip Semarang dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia. “Makanya, kami terus gugah mereka untuk mempraktikkan. Bagaimana cara praktikin yang betul, periksakan sesuai kondisi klinis ke dokter yang tepat. Artinya, ada kesadaran konfirmasi,” katanya.

Menurut Walta Gautama, semua jenis penyakit kanker, termasuk kanker payudara, sebenarnya bisa disembuhkan jika sudah terdeteksi sejak stadium awal dan mendapatkan penanganan secara benar dan baik. Untuk stadium I kanker payudara, kata dia, tingkat kesembuhannya mencapai 95%, stasium II berkurang menjadi 80%, stadium III sekitar 60%, dan terus berkurang.

“Artinya, makin awal [kanker terdeteksi] tingkat kesembuhannya makin tinggi. Penyebab kanker payudara belum diketahui, tetapi kebanyakan karena hormonal yang berlebih, yakni estrogen,” katanya.

Dari kasus kanker payudara yang banyak ditemui, kata dia, dominan memang pada rentang usia 40 tahun-50 tahun yang penyebab utama diduga karena hormon estrogen yang berlebih. “Kan ada yang bilang karena genetik atau bawaan. Jadi, jika terdeteksi kanker payudara pada usia di bawah 40 tahun, mungkin. Namun, kalau usia 40 tahun-50 tahun itu karena hormonal,” kata Walta Gautama.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Agum Gumelar mendorong seluruh perempuan, baik remaja, ibu muda, maupun usia senja untuk menyadari pentingnya deteksi kanker payudara. “Sekarang ini stigma di masyarakat kan kalau kanker payudara ujung-ujungnya meninggal. Padajal, banyak yang bertahan hidup jika ditemukan pada tahap awal. Banyak sekali kok contohnya,” katanya di kampus Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang itu.

Melalui berbagai organisasi perempuan, termasuk Dharma Wanita, lanjut dia, Yayasan Kanker Payudara Indonesia terus menggencarkan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama perempuan. Yang terpenting, kata Linda, kesadaran untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker payudara, baik melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau ke dokter jika menemukan gejala klinis.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…