Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY)
Senin, 12 Februari 2018 22:40 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Jelang Imlek, Malioboro Dipercantik

Reresik Malioboro juga dilakukan di kawasan Ketandan.

Solopos.com, JOGJA–Kegiatan reresik atau bersih-bersih kawasan Malioboro yang dilaksanakan setiap Selasa Wage kali ini tidak hanya membersihkan selasar yang digunakan pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan, namun juga akan membersihkan kawasan Ketandan, sebagai persiapan menyambut perayaan Imlek.

Ketua Paguyuban Tri Darma, salah satu paguyuban PKL Malioboro, Paul Zuklarnaen membenarkan, reresik Malioboro kali ini akan diarahkan ke Ketandan. “Sepanjang Malioboro tetap dibersihkan, setelah selesai diarahkan untuk bersih-bersih di kawasan Ketandan,” kata Paul, Senin (12/2/2018).

Paul mengatakan bersih-bersih Malioboro akan dimulai sekitar pukul 05.30 WIB sampai sekitar pukul 10.00 WIB. reresik tersebut diikuti semua komunitas di kawasan Malioboro. Selesai kerja bakti, semua komunitas juga akan menyelenggarakan doa bersama di Masjid DPRD DIY untuk kelancaran para pedagang dan pemerintah.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Syarif Teguh Prabowo mengatakan, reresik Malioboro diselenggarakan oleh komunitas, namun pemerintah turut mendukung program setiap 35 hari sekali tersebut. Karena setiap bulannya, pemerintah juga akan melakukan perbaikan di kawasan Malioboro, seperti lampu, taman, dan kursi, dan sebagainya.

Selain membersihkan sampah, kata Syarif, para komunitas juga rencananya akan memasang pernak-pernik yang berkaitan dengan perayaan Imlek di sepanjang Jalan Malioboro dan kawasan Ketandan. Karena, kata dia, Ketandan selama ini menjadi salah satu kawasan cagar budaya yang menjadi daya tarik wisatawan.

Terlebih pada 24 Februari nanti di Ketandan juga akan digelar Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Acara yang rutin digelar tiap tahun tersebut juga mampu mendatangkan banyak wisatawan. Imbasnya, pedagang sepanjang Malioboro juga akan mendapat manfaatnya. “Maka Ketandan juga akan kami bersihkan sama-sama,” ucap Syarif.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…